Benny Harman: Dijegal Tapi Tak Terhempas
Cari Berita

Advertisement

Benny Harman: Dijegal Tapi Tak Terhempas

Thursday, December 28, 2017


"BKH itu sombong dan elitis maka tak layak memimpin NTT"

CATATAN, Infonewsia.com - Demikian narasi lawan politik yang berusaha memasung niat Benny K Harman (BKH) untuk maju Pilgub NTT tahun 2018. Walaupun jauh dari kenyataan, namun cerita seperti ini kerap diproduksi lawan politik untuk menghancurkan reputasi BKH di mata publik. Pada bagian yang paling radikal, mereka bahkan menyebut "Asal Jangan BKH". Apapun caranya.

Calon Gubernur NTT Dr. Benny K. Harman
Calon Gubernur NTT Dr. Benny K. Harman - ist
Narasi seperti ini terus gencar dikampanyekan. Anehnya, walaupun tidak disertai alasan yang masuk akal, namun cukup berhasil merenggut keyakinan segelintir orang, termasuk yang menyebut dirinya kaum rasional. Tak hanya dalam narasi, akhir-akhir ini ada kelompok tertentu yang berupaya menjegal dirinya agar tidak mendapat parpol koalisi. 

BKH sendiri mengakui bahwa ada upaya yang sangat kencang dan vulgar untuk menghadang dirinya maju dalam pilgub tahun depan. BKH memang sosok yang terbilang kontroversial dalam kaca mata politik awam. 

Pada kasus tertentu, dia bahkan tidak takut melawan arus opini publik jika dia yakin apa yang disampaikannya benar. Gaya komunikasinya yang tegas, jujur dan blak-blakan ini menjadi senjata ampuh bagi lawan politik untuk memplesetkan kepribadiannya  menjadi sombong, elitis bahkan cuek.

Mengapa BKH Dijegal? Ada apa dengan BKH? Itulah pertanyaan penting yang harus diketahui seluruh masyarakat NTT.

Hingga saat ini tidak ada satu kasus korupsi maupun skandal moral yang mengganjal figur ini (selain fitnah dan isu lama yang didaur ulang). Mengapa banyak orang yang takut dirinya menjadi gubernur NTT?

Saya belum melihat alasan lain, selain karena takut dengan kepribadian BKH. Kepribadian itu terangkum dalam tiga kata yakni  Bersih, Konsisten dan Humanis. 

Pergumulan hidupnya bersama orang-orang tertindas saat menjadi aktivis mahasiswa maupun bekerja di beberapa Lembaga Bantuan Hukum mengasa kepribadiannya untuk jernih dalam berpikir, berani menyatakan pendapat dan peka dalam merasa. Singkat kata sosok yang dikenal dengan nama BKH ini memiki kepribadian yang BERSIH. 

Bersih Pikiran, Bersih Hatinya

Bersih pikiran dan hatinya itu yang membuat perjalanan politiknya dipenuhi tantangan. Benny sendiri dipaksa untuk menjadi licik seperti ular dan tulus seperti merpati. Pada kondisi tertentu dia bahkan berkawan dengan lawan, bersekutu dengan setan asalkan idealismenya tak terpanggang dalam panasnya hawa Senayan.

Saat prahara Hambalang menerjang, sesungguhnya memberi pesan yang amat jelas bahwa kader terbaik asal NTT ini tetap konsisten meski banyak teman-temannya yang jatuh dalam kubangan korupsi. Dia telah teruji dan lolos dari magnet kenikmatan korupsi.

Maka tak salah jika kita menilai BKH sebagai pribadi yang  KONSISTEN. Kata ini memang mudah tersingkap dari setiap mulut politisi di negeri ini namun  miskin makna. Terakhir, Benny K Harman adalah seorang yang HUMANIS. 

Menjadi seorang aktivis sejak mahasiswa mungkin belum cukup bagi kita untuk menilai orang ini sebagai pribadi yang humanis. Hal ini terungkap dalam karya-karyanya berikut:

Pada tahun 1992, BKH mendirikan Pusat Studi Hukum Lingkungan Indonesia (Indonesian Centre for Enviromental Law/ICEL)

Tahun 1994, dia mendirikan FITRA (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran)

Tahun 1995, mendirikan Perhimpunan Bantuan Hukum danHak Asasi Manusia Indonesia (PBHI), Jakarta

Tahun 1999, mendirikan Lembaga Studi dan Advokasi Independensi Peradilan (LeIP)

Tahun 2004, mendirikan Setara Institut For Democracy

Tahun 2013, mempelopori Pansus dan Panja RUU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis

Pelopor sekaligus Pansus dan Panja DPR untuk Kasus Kematian Munir

Selain memelopori berbagai UU di bidang kemanusian di DPR RI serta menulis berbagai karya bertajuk kemanusiaan, bukti keterlibatan Benny yang lain adalah getol menyuarakan kasus human trafficking di NTT. Hampir di setiap rapat kerja bersama Kapolri, Benny tak lupa menyoroti kasus kematian TKI asal NTT di luar negeri.

Kepribadian BKH (Bersih, Konsisten dan Humanis) adalah alasan mengapa dirinya dihadang dengan berbagai cara. Para pengusaha hitam yang bermain dalam pilgub NTT merasa orang ini tidak bisa digiring untuk mengembangkan investasi mereka. 

Demikianpun dengan politisi bermuka duit, mereka takut karena orang tidak mau diajak kompromi untuk korupsi. Aksi menjegal BKH pun mendapat jawabannya. Saat politik masih jauh dari cara-cara sehat, intrik politik kotor kerap dimainkan untuk merebut kekuasaan, apapun caranya.

Ketika borok yang dominan keluar, Arena Pilkada pun ibarat panggung drama yang mempertontonkan kepalsuan. Setiap musim pilkada, para bandit dengan kekuatan modalnya disulap menjadi malaikat sedangkan orang bersih yang tidak mau didikte kepentingan busuk, dihina jadi penjahat. Kita sering terkecoh dalam hal ini.

Walau dihujan berbagai kampanye anti dirinya, BKH tidak patah. Kemauannya yang keras untuk membangun NTT justru teruji melalui cara-cara seperti ini. Segudang pengalaman, dan keinginan untuk kembali membangun NTT memang tak mudah dibendung. 

Dia pernah berucap terhadap kekalahan di Pilgub sebelumnya, bahwa dia tidak menyesal atas kekalahannya itu. Tapi yang disesali adalah dia tidak memiliki kesempatan untuk membangun NTT.

Benny K. Harman yang selalu "ngotot" kembali ke NTT, perlu dibaca secara positif. Dia rela meninggalkan 'kenyamanannya'  di Jakarta hanya untuk mengabdi di NTT yang secara nasional sering disebut 'lahan kering'. 

Persoalannya bagaimana orang NTT? Apakah mau menerimanya atau malah ikut menolak dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal itu? Satu hal yang pasti niat BKH sangat tulus untuk mengabdi di tanah kelahirannya, NTT. 

Dia boleh dijegal oleh cara apapun namun komitmen dan niat baiknya tidak akan terhempas  !!!*

_________________________________________________________________________
*Penulis: Risan Ndaha

Catatan Redaksi:                                             

Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Infonewsia.com*