Demi Kemanusian, Luruskan Logika yang Bengkok Bag. I
Cari Berita

Advertisement

Demi Kemanusian, Luruskan Logika yang Bengkok Bag. I

Thursday, March 29, 2018

Opini, Infonewsia.com-Judul tulisan ini saya pangkas karena terlalu panjang. Judul awalnya berbunyi demikian: Demi Kemanusiaan,  Luruskan Logika yang Bengkok  dan Obati Imaginasi yang Sekarat.

Goresan ini bermula dari sebuah permenungan panjang dan jawaban atas diamku selama ini. Atau tepatnya, ini adalah buah dari observasi saya mengenai 'ganda-ganda pelitik' khalayak ramai seputar Pilgub NTT yang sudah sedang bergulir.

Masing-masing Timses menyerang sana-sini, meski tanpa argumen yang jelas. Saat mendengar para Timses ini beradu argumen berusaha meyakinkan pihak lawan, saya langsung 'jelep' alias jelas-jelas pening.

Olehnya, Saya menggoreskan ini lantaran sebuah panggilan hati nurani yang sungguh sangat menukik dari dalam bhatin. Suara itu terus menggema, katanya: jangan hanya dengar, lihat lalu diam. Berbuatlah dan lakukan sesuatu untuk Tanah Flobamora yang kau cintai.

Bagi Saya, suara kecil ini disebut panggilan dari dan untuk kemanusian. Tinggal diam dan membiarkan mereka, para pendukung berargumen ngalur-ngidul bikin saya 'benek' benar-benar luek.

Terlebih ketika pada suatu sore, saya dipertemukan  dengan seorang sodara asal Flores  di warung kopi Mbak Pesek. Niat mau menghabiskan sore dan menghantar sang raja siang kembali ke garis horizon dengan secangkir kopi pa'it dan menengok si pesek cantik, eh malah saya terlibat dalam sebuah diskusi panas dengan sodara sesama NTT ini, yang kebetulan sore itu baru pulang foto kopi makalahnya. Eja satu ini sedang menempuh S2 di sebuah perguruan tinggi di kota Jakarta.

"Eja, eja mengidolakan siapa dalam pilgub NTT ini?' si Eja ini membuka percakapan.

"Saya BKH eja. Kalo eja?" Saya jawab lalu balik bertanya.

"Saya MS eja, Marianus Sae."Jawabnya lugas.

"Tapi dia bagaimana sudah dengan dia punya rompi itu eja?''

"Ahk tidak usah kwatirlah eja, itukan permainan politik eja. Jadi MS itu korban dari grand design''

"Maaf eja, yang eja maksudkan dengan 'grand design itu baemana le..."

"Walah masa eja tidak tau." Dia bertaanya retoris. "Jadi orang sudah setting supaya dia terkena OTT lah eja."

"Artinya, OTT yang dilakukan KPK itu salah ka eja?" Tanya saya tidak mengerti.

"Iyalah eja, kalo sudah disetting dengan tanda kutip menjadi korban grand disign itu sudah salah eja.'' Saya tambah tidak mengerti. Bingung campur pusing bikin kepala saya benar-benar 'jelep' jelas-jelas pening. Saya lalu klarifikasi soalnya ini istilah baru. Sebelumnya saya dengar Tim sebelah label MS dengan istilah 'grand narasi' eh ternyata MS juga ada label untuk tim lawannya e dengan sebutan 'grand design'. Aduh Tuhan tolong, saya tidak sanggup dengan istilah-istilah ini.

"Eja, menurut eja, penjabaran dan penjelasan serta definisi dari OTT sesuai KUHP itu apa sampei eja bilang OTTnya MS itu adalah grand design?" Tanya saya polos.

"Jadi begini eja." Dia membetulkan duduknya lalu melanjutkan. "Operasi tangkap tangan berarti saat sedang melakukan tindakan pidana. Karena itu OTT berbeda dengan penetapan tersangka lain melalui pemanggilan jadi saksi, penetapan jadi tersangka. Jadi kalau kita berteriak Si Marianus pencuri belum tentu. Karena, OTT yang terjadi tidak sesuai dengan fakta OTT yaitu : ada bukti yg didapatkan saat itu. Sementara KPK tidak dapat apa-apa saat OTT, hanya ATM di dalam dompet, sementara uang setoran yang menjadi barang bukti tidak ada." Jelasnya panjang lebar. Definisi ini jelas-jelas bukan definisi dan penjelasan tentang OTT seperti yang tertuang dalam KUHP  pasal 1 angka 19.

"Eja konsetrasi studinya apa?"

"Saya sedang ambil S2 hukum perdata eja." jawabnya yakin.

Dalam hati saya membuat catatan kecil. Memang sih perdata dan pidana beda. Tapi ini eja belajar hukum, masa eja satu ini tidak paham tentang OTT.  Orang ini sungguh-sungguh tarlaluuuuuuuu. Sudah S2 hukum tidak paham yang begini-begini. mau jadi apa ini? Ataukah dia sengaja membodohi saya? Aduh e, sorry eja, saya tidak sebodoh itu. Tak ayal, saya berpikir, kalo orang pendidikap seperti ini saja sudah salah, apalagi mereka yang tidak kuliah tapi mo gaya gaya omong OTT. IIn miris. 

Catatan: narasainya si Eja sudah gagal. Logikanya juga patah. Pun imaginasinya mengawang.

"Eja, menurut saya tafsiran yang eja barusan jabarkan itu salah. Yang benar adalah begini:  'Tertangkap tangan adalah tertangkapnya seorang pada waktu sedang melakukan tindak pidana, atau dengan segera sesudah beberapa saat tindak pidana itu dilakukan, atau sesaat kemudian diserukan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukannya, atau apabila sesaat kemudian padanya ditemukan benda yang diduga keras telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana itu yang menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya atau turut melakukan atau membantu melakukan tindak pidana itu' Ini sesuai Pasal 1 angka 19 KUHAP, ada empat kondisi yang dapat disebut sebagai tertangkap tangan." Dia diam dan tanpak mukanya pucat, sementara saya perhatikan telingganya merah terbakar 'malunya'.


____________________________________
*Rikard Djegadut adalah penghuni @putracongkasae.com tinggal di Jakarta.

Catatan Redaksi:                                     

Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Infonewsia.com*