Fakta Unik: Mengenal Kampung Adat Tarung Yang Tak Tergerus Oleh Perubahan Zaman
Cari Berita

Advertisement

Fakta Unik: Mengenal Kampung Adat Tarung Yang Tak Tergerus Oleh Perubahan Zaman

Sunday, March 11, 2018

Kampung Adat tarung, salah satu kampung tradisional di Sumba Barat yang menambah daftar panjang jumlah kampung adat di propinsi Nusa Tenggara Timur yang mampu bertahan di atas hempasan perubahan zaman.

Kampung yang terletak di sebuah bukit kecil dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan daratan Kota Waikabubak, tepatnya di kelurahan Soba Wawi, Kecamatan Loli, persis di jantung Kota Waikabubak, Ibu kota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur bernama kampung Tarung.

Kampung Tarung hingga saat ini masih memiliki 102 rumah panggung, dihuni sekitar 400 keluarga. Di dalam satu rumah panggung berukuran sekitar 15 meter x 15 meter dihuni 3-4 keluarga.

Jumlah warga Tarung 1.530 jiwa dengan mata pencarian sebagai petani, perajin tenun ikat, dan pegawai negeri sipil.

Rumah-rumah itu dibangun melingkari puncak bukit. Terdapat sebuah pelataran di tengah kampung. Di pelataran itu terdapat 17 kubur batu berbentuk altar (meja) dengan titik pusat pelataran berada di ujung timur, tempat matahari terbit.

Di situ ada mesbah, terbuat dari batu berukuran 2 meter x 3 meter, diapit sebuah pondok ilalang berukuran 2 meter x 2 meter dengan ketinggian 3 meter. Pondok itu tempat berdoa Rato (raja yang juga menjabat imam adat).

Dalam satu bulan, sang Rato berdoa tiga kali di rumah gubuk itu, yakni awal bulan, pertengahan bulan, dan akhir bulan.

Rato Tarung, Rato Lado Regi Tera, mengatakan, kampung adat Tarung sering disebut ”Tarung Waibaka” karena Kampung Waibaka menyatu dengan kampung adat Tarung. Waibaka merupakan ”adik kandung” Tarung dengan jumlah rumah adat sebanyak 12 unit.

Kampung Tarung dihuni oleh Kabisu Koga Kadi / Wee Lowo,  Ana wara, Wanu kalada, Tanabi, Wee Nawi, Wataka Watu , serta Wee Bol

Kampung Adat Tarung memiliki 12 rumah adat utama dengan fungsinya masing-masing, diantaranya:

 1. Uma Rato, fungsinya sebagai Ina Ama, dan sebagai  penunggu kedatangan Uma Tuba.

 2. Uma Mawinne, fungsinya sebagai penentu  tibanya bulan suci.

 3. Uma Wara, fungsinya sebagai tempanya tombak adat/ Nobu Wara.

 4. Uma Dara, fungsinya sebagai tempatnya kuda adat.

 5. Roba Delo, fungisnya sebagai tempanya parang adat.

 6. Uma Marapu Manu,fungsinya yaitu pada saat pelaksanaan upacara  Podu yang melakukan persembahan ayam.

 7. Uma Madiata, Fungsinya sebagai pembawa lagu adat (Dodo, Walo)

 8. Wee Kadaa/ Ledo Naba, fungsinya sebagai tempatnya kuda adat, penarikan batu kubur dan sebagai pembawa air sucu yang terkena kilat.

 9. Jaga Wogu/ Pollu Batana, fungsinya sebagai rumah induk tempat pelaksanaan  dan Toko Uma Duada- Kadu Yipa Pera, Dede Lira- Adde Bedo pada Rato Rumata Wara.

 10. Ana Wara Ana Uma, fungsinya yaitu sebagai tempat perang adat.

 11. Ana Uma Madiata, fungsinya sebagai tempat parang adat.

 12. Uma Ana Wara Ana Uma, fungsinya yaitu sebagai Kaito Utta-Poppu Winno dan  sebagai penerima tamu pertama pembawa babi hutan (Wulli Pare).

Beberapa benda pusaka yang kemudian ditetapkan sebagai benda Cagar Budaya antara lain Bedu/ubbu (tambur), Katuba (tambur kecil), Talla (gong), Kasaba (simbal), Teko (parang), Nobbu (tombak), Toda (tameng), Pamuli/Tabelo/Maraga/Lele/Lagaro (aksesoris), Pega, Koba, Gori, Piring, Mangkuk dan cawan. 



Penulis: Rikard Djegadut
Photo:  yulisdiana & marischkaprue