Politik Move On, Opsi Terakhir Usai Jagoanmu Terbantai
Cari Berita

Advertisement

Politik Move On, Opsi Terakhir Usai Jagoanmu Terbantai

Thursday, March 29, 2018

Catatan, Infonewsia.com - Kekecewaan dan sakit hati adalah konsekuensi alamiah yang diterima makhluk hidup bernama manusia. Karena ia bukan makhluk halus, maka perasaan beti nai yang dirasakan manusia mesti dilihat sebagai bentuk kelahiran dari 'yang lain'. 


Slavov Zizek, seorang filsuf kontemporer membahasakan narasi kelahiran dari 'yang lain' dalam kerangka filosofis yang ketat. Bagi Zizek, hidup itu bersumber dari katastrofi, yakni bencana besar. Alam semesta ini pun menurut Zizek, bermula dari sebuah ledakan besar. 

Tentu, saya tak sedang menggauli pemikiran filsuf Slovenia itu hingga klimaks. Cukup jep-jepringan. Maklum, amunisi filsafat di otak saya hampir punah seiring bertambahnya usia. Namun, secara samar-samar bisa ditarik simpul bahwa kekecewaan dan sakit hati yang orang Lio bilang beti ate jao itubisa dilihat sebagai ungkpan kelahiran dari 'yang lain' ini.

Kita coba sederhanakan. Ketika lu jatoh cinta dengan nona Lembata misalnya. Target besar su lama melekat di lu pung kepala. Dia harus naik plaminan bareng lu. Lu su janji dalam hati akan sehidop semati sampe opa oma. Pokoknya, meski badai menghalang dan rintangan membentang, nona Lembata tetap di hati.

Kekecewaan tertumpah tatkala target dan mimpi besarmu itu meleset. Lu pung nona orang bawa lari entah kemana. Nomor WA su diblokir. Woto-woto di instagram pun dihapus. Dan pas lu lacak di feisbuk, dia lagi pasang woto elus perut dengan caption manjanya "cepat pulang pa, aku dan dede bayi kita di dalam perut menantimu di rumah". 

Sakit hati pun meledak ketika janji yang pernah terucap di pinggir kali dulu, tergadai pesona tampan pria lain. Apalagi banyak duit, punya pekerjaan tetap, romantis dan sederet terminologi asmara lainnya. Kau punya mimpi sehidup semati akhirnya macam siulan di siang bolong pas lagi lapar, di tengah hutan pula.

Barangkali peneguhan JSB Morse tentang "Hati yang patah memang harus terasa sakit karena rasa sakit itu mengajarkanmu bagaimana mencintai sesuatu secara utuh," tak laku lagi di sini. Kecuali bagi mereka yang punya tingkat spiritualitas di atas rata-rata. Semuanya berantakan. Depresi adalah salah satu konsekuensi yang mungkin, jika tak sempat bunuh diri. 

Boleh jadi, ledakan besar yang dibahasakan Zizek adalah rasa cintamu yang menggebu-gebu itu, namun kandas di lapangan. Yang tersisa adalah kekecewaan dan sakit hati sebagai bentuk kelahiran dari 'yang lain', yang kau sebut cinta sampe opa oma itu. Maafkan saya jika keliru menafsir filsafat Zizek.

Ini adalah sepotong review pergumulan asmara seorang sahabat yang datang ketok pintu kamar kos saya tengah malam gergara dia pu nona ilang kabar dan kabur ke Kalimantan. 

Dalam dunia romantika, kekecewaan dan sakit hati adalah sebuah kepastian. Lu mau tolak dengan bayar dukun pun rasanya susah. Politik pun demikian. Dalam konteks pergumulan politik, ledakan kekecewaan dan meletupnya sakit hati para pendukung lebih dahsyat dibandingkan problem asmara para remaja zaman now, termasuk sahabat saya yang datang tengah malam.

Lu bayangkan, ketika sosok yang dipercayakan untuk menahkodai sebuah daerah, tetiba ketangkap lembaga anti rasuah. Sakitnya bukan hanya di sini, tetapi dimana-mana. Tidur malam pun susah. Mata jadi berat mo tertutub. Mimpi untuk menghantarnya ke plaminan kekuasaan terhenti. KPK lebih gesit menggopongnya ke jeruji tahanan.  

Di beberapa daerah, ekspresi kekecewaan dan sakit hati itu terbaca dalam gerakan bela rasa yang dikemas sedemikian rupa lewat malam seribu lilin bagi sang tersangka. Di beberapa daerah yang lain, ungkapan kekecewaan dan sakit hati itu diedarkan lewat mosi tidak percaya terhadap KPK. 

Spirit perjuangan KPK untuk memberantas korupsi digiring ke ruang curiga politis penuh kepentingan. Independesinya dipertanyakan. Kenapa jagoanku diciduk sekarang dan bukannya tunggu saat sudah menjabat nanti? hehe. Dalam kondisi yang putus asa, kehilangan harapan, kemampuan untuk berpikir jernih rasanya tak mudah. Akal sehat tak punya tempat lagi di sana.

Barangkali, pergumulan macam ini yang disebut Karl Jasper sebagai situasi batas. Dalam hidup, kita dikepung oleh krisis tanpa henti. Kepergian orang yang dicintai, tertangkapnya kandidat yang kita agung-agungkan, kehancuran politik yang dibangun di atas rencana dan mimpi besar, hati yang terluka akibat pengkhianatan orang yang dikasihi, sampai ditipu sahabatnya sendiri, dll.

Pertanyaannya, di tengah situasi tersebut, masih adakah harapan yang tersisa; kekasih yang lebih setia dan konsisten dengan janjinya untuk sehidup semati di plaminan? Masih adakah mimpi yang terbersit di sana; kandidat yang jujur dengan dirinya sendiri bahwa dia tak pernah merampok duit rakyatnya? 

Tentu masih.  Mati satu tumbuh seribu. Ini dalil asmara sekedar menutupi kegalauan ketika SMA dulu. hhh. Tapi benar, optimisme asmara penting untuk dihidupakan. Setidaknya mengurangi daftar gantung diri akibat ditinggalkan sang kekasih. Ataupun menenggak polaris lantaran tak jadi kawing dengan nona idamannya. 

Jasper mengajak kita menjalani semua ini dengan lapang dada. Krisis adalah situasi di mana manusia terbuka pada yang terbatas, atau Tuhan itu sendiri. Dalam konteks kandidadat yang terjerat OTT misalnya. Tugas kita adalah menyerahkan seluruh peroses penyelesaian kasus tersebut kepada KPK. Tak perlu gara-gara bikin analisis panjang lebar di feisbuk. Toh Jubir KPK tidak berteman denganmu di feisbuk. 

Sebagai umat beriman yang selalu mengalami situasi batas, doa yang tulus agar para kandidat yang terjerat OTT di negeri ini bisa melewati masa-masa sulit tersebut dengan penuh iman dan keyakinan akan Tuhan. Politik selalu akrab dengan kerikil tajam. Biarkan Tuhan yang membuka jalan sekaligus kesadaran untuk bertobat. Tobat untuk tidak korupsi uang rakyat. 

Para pndukung dan simpatisan segera ambil haluan lain. Bukan karena mengkhianti atau takut dicap tak loyal, tetapi lebih kepada cara kita menjaga harga dirinya. Mendukung kandidat yang 'bermasalah' untuk tetap bertarung adalah ejekan politik yang paling sadis dan sungguh tidak manusiawi. Tentu kita tak setega itu.

Mari berpikir dalam skala yang lebih luas, untuk daerah kita masing-masing. Ini soal martabat dan harga diri daerah. Soal mendoakan dan memberikan dukungan moril, itu wajib dan perlu. Tetapi, memberikan tanggung jawab kepadanya untuk memimpin daerah, itu berat, biar yang lain saja.

Semoga dengan masa paskah ini, kita mampu mengedepankan politik move on dan bukan politik pompa dada untuk menyiasati kekecewaan dan tumpukan beti nai yang selama ini masih membeku. Tanggung jawab kita adalah mencari yang lebih baik, bersih dan konsisten dengan janjinya, sembari mendoakan mereka yang saat ini masih dalam tahanan KPK.

Ingatlah, ketika seorang kuat pergi dan membiarkan sejumlah badut tinggal, maka harapanmu akan punah dirampas serakah. *



*Oleh: Bro Andyka (Blogger asal Manggarai Timur yang sedang belajar menulis)

Catatan Redaksi:                                     

Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Infonewsia.com*