Apa itu Upacara Saung Ta'a Dalam Budaya Manggarai, Flores NTT?
Cari Berita

Advertisement

Apa itu Upacara Saung Ta'a Dalam Budaya Manggarai, Flores NTT?

Saturday, April 28, 2018

Budaya, Infonewsia.com - Saung ta'a  merupakan sebuah frasa dalam bahasa dan tradisi Manggarai, Flores NTT yang merupakan salah satu tradisi untuk memperingati  kematian seseorang yang biasanya dilakukan pada hari ketiga setelah seseorang meninggal. 
Apa itu Upacara Saung Ta'a Dalam Budaya Manggarai, Flores NTT?

Secara harafiah, saung ta'a merupakan daun yang masih mentah atau hijau. Saung artinya daun dan ta'a artinya  mentah, hijau. Istilah ini mengandung makna yang cukup dalam dan bernilai filosofis tinggi.

Saung ta’a yang berarti daun mentah dan hijau itu berarti bahwa jika dikaitkan dengan keluarga yang berkabung, yang dihantui oleh perasaan takut, merasa sedih, cemas, gelisah, loyo, tak berdaya, tak punya harapan, muka sayu, dan lain-lain. Ya, ibaratnya seperti kayu yang hampir kering, daunnya menguning dan hampir mati. 

Oleh karena itu, agar hati tak berlarut-larut dalam duka nestapa, maka diadakannya suatu acara adat perpisahan secara resmi antara keluarga yang masih hidup dengan arwah seorang anggota keluarga yang meninggal dunia.

Inilah yang disebut saung ta'a (daun mentah dan hijau) yang dilaksanakan pada malam ketiga atau malam kelima setelah pemakaman jenasah. Menurut kepercayaan leluhur orang Manggarai, arwah orang meninggal dunia masih ada bersama keluarga sampai pada acara saung ta'a. 

Baca juga: 

Fakta Tentang Tari Caci Manggarai


Upacara saung ta’a merupakan upacara agar seluruh anggota keluarga berduka dapat memegang daun-daun mentah di kebun. Dengan kata lain agar keluarga berduka dapat bekerja seperti biasa).

Menurut tradisi Manggarai sampai kini, selama tiga hari atau lima hari keluarga masih berduka cita. Bahkan sebelum acara saung ta'a  tidak boleh mengadakan pesta perkawinan (pesta pora) , kecuali kalau sudah terlanjur direncanakan (mengeluarkan surat undangan) sebelum peristiwa kematian, asalkan tak membunyikan musik/lagu atau mengurangi volume musik. 

Baca juga: 

Unik! Beberapa Hal Yang Wajib diketahui di BalikTradisi Congko Longkap Manggarai, NTT


Dengan dilaksanakannya acara saung ta’a, maka duka yang mendalam mau tak mau harus dilepaskan sembari menatap masa depan yang baru dengan penuh optimis, sukacita dan penuh pengharapan. Perubahan situasi itu ibaratnya bukan lagi saung dango (daun kering) atau saung melo (daun layu), melainkan berubah menjadi daun hijau dan mentah (saung ta'a).

Acara sembelih hewan yang dilakukan dalam acara ini tergantung ekonomi keluarga yang berduka. Tetapi rata‘rata daging utama ialah babi (untuk Nasrani) , dan kambing (untuk Muslim). 

Inti Doa'a Saung Ta'a 

Pagi-pagi sebelum matahari terbit, diadakan ritual samo likus yaitu seluruh keluarga berduka pergi ke mata air untuk mencuci muka/mandi sebagai simbol selesainya masa duka. 

Hari itu seluruh kain pembungkus jenasah dicuci dan dijemur. Dalam bahasa adatnya : lulungs Iocé-lepets buing = tikar digulung, kain - kain jenasah dilipat.

Seluruh kain pembungkus jenasah dicuci dan waktu upacara saung ta’a kain-kain itu diasapi agar bila dipakai nanti tidak diganggu oleh arwah dia yang sudah meninggal itu. 

Baca juga: 

Bikin Bangga, Ini Fakta di Balik Motif Kain Songke Manggarai


Di rumah berduka pun hari itu semua tikar yang dibentangkan selama masa perkabungan dilipat kembali bersama semua kain pembungkus jenasah. Dalam bahasa adatnya “lulungs locé-lepets buing.”

Inti doa waktu saung ta ’a adalah : ”Denge’ le hau ema.... H0 ’og dé manukn kudut adakn saung ta ’0, kudut lulungs dé locé-lepez‘s dé buing. Kudut bola kolés nggong-tebang kolés gendang. Dopo hau kali ga irus oné isung-lu’u ané mata. Néka dadé haé k0 ’e'ngm-néka poto haé golom. Poro nggerlé kali nai da 'atn-nggercé’é nai di’am. Poro molor kali lako de hau nggerolo kamping Mori” baté wowo uwa isé anakm musi mai. Emé manga ata lut haud, dur curu koés-doe’t kolés. Sangge'd isé musi mai kali ga uwa gulas-bok lesos, tadangs taé raja agu déus taé wié. Ho'og lalong bakokm kudut saung ta’a, kudut lulungs Iocé-lepets buing. 


Dikutip dari buku: Budaya Manggarai Karya Adi M. Nggoro & Butir-Butir Adat Manggarai Karya Petrus Janggur