Bikin Kagum, Indahnya Surga Tersembunyi Fulan Fehan, NTT
Cari Berita

Advertisement

Bikin Kagum, Indahnya Surga Tersembunyi Fulan Fehan, NTT

Friday, April 13, 2018

Wisata, Infonewsia.com - Berbicara tentang keindahan karya agung Tuhan di di Nusa Tenggara Timur memang tak akan ada habis-habisnya. Kali ini kita akan mempersembahkan kepada dunia pengalaman kami menikmati sensasi surga tersembunyi pemberian Tuhan di Tanah Timor yakni Fulan Fehan. 
Fulan Fehan di Nusa Tenggara Timur punya sejumlah keunikan yang membuatnya menarik untuk disambangi. Selain keindahan alam yang tak kalah cantik dengan pegunungan di Eropa, Fulan Fehan juga menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang masih terus dilestarikan hingga kini dan akan selalu terjaga. 
Fulan Fehan berada di lembah kaki gunung Lakaan. Penampakannya yang indah serupa surga tersembunyi hadiah agung Tuhan. Oleh pemerintah setempat, tempat ini dijadikan  sebagai sektor wisata unggulan. Sangat cocok bagi Anda yang gemar bertualang di alam, atau berpelesir untuk mendapat kedamaian.
Fulan Fehan berada di wilayah strategis tumbuhnya dua budaya, yaitu perbatasan Indonesia dan Republik Demokrat Timor Leste. Tepatnya di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Kota Atambua.
Dari Atambua, Fulan Fehan berjarak sekitar 42 kilometer melalui Desa Waluli, atau sepanjang 26 kilometer--kurang lebih satu jam--bila ditempuh melalui jalur Desa Halibete-Maudemu, dan sekitar 30 kilometer menempuh jalan Sabuk Perbatasan hingga ke ujung aspal di Desa Dirun. Anda bisa menggunakan motor, atau (lebih baik) mobil 4WD.
Patokan akses masuk menuju lokasi, yaitu rumah adat Siri Gatal Porbol yang tampak besar dan antik di tepi jalan. Dari sana, selain berkendara Anda juga bisa berjalan kaki sambil mendaki. Selalu waspada, sabar dan hati-hati karena jalannya berbatu, cukup curam dan terjal, serta terdapat jurang yang dalam di sisi jalan.
Walau akses menuju lokasi terbilang sulit, pemandangan sepanjang perjalanan menyejukkan mata. Anda bisa melihat banyak bukit hijau, lautan pohon jagung muda yang hampir menutupi rumah-rumah di pedesaan, termasuk kambing gunung yang menyaksikan Anda ketika mendaki.
Apalagi sesampainya di Fulan Fehan, Anda akan takjub dengan pesona alam yang disuguhkan.
Pesona alam Fulan Fehan
Sejauh mata memandang, hamparan sabana kehijauan mirip lapangan golf membentang luas di atas perbukitan yang landai. Di sebelah barat, Anda dapat melihat Gunung Lakaan yang menjulang tinggi. Pun Bukit Batu Maudemu di Desa Maudemu, yang di puncaknya terdapat beberapa peninggalan bersejarah berupa kuburan-kuburan bangsa Melus.
Anda juga bisa menyaksikan Kabupaten Belu dari ketinggian di pinggir tebing. Bahkan dari kejauhan di sebelah timur dan selatan tampak beberapa gunung tinggi yang merupakan bagian dari Timor Leste.
Berbeda dengan Atambua yang identik sangat panas, udara di sini cukup dingin dengan suhu sekitar 21 - 30 derajat Celsius. Namun anehnya, banyak kaktus tumbuh liar di beberapa tempat. Terutama di sudut sabana, atau dekat batu karang yang bertebaran.
Konon, menurut cerita leluhur warga setempat, kawasan ini dahulunya adalah lautan. Kini, menjelma menjadi padang rumput luas yang ditumbuhi kaktus liar.
Uniknya lagi, gembala sapi dan kuda liar sekaligus ternak milik warga dibiarkan berkeliaran di alam bebas. Dulu jumlahnya sangat banyak, tetapi sekarang sudah berkurang. Jika haus, mereka bisa minum dari danau alami yang bertebaran.
Itu sebabnya, Fulan Fehan lebih mirip padang rumput di dataran Eropa ketimbang lembah di kaki gunung,
Situs sejarah dan budaya
Selain kecantikan panoramanya, di dalam padang Fulan Fehan juga terdapat dua destinasi wisata sejarah. Yakni Benteng Kikit Gewen yang berarti burung Rajawali, dan Benteng Ranu Hitu di puncak Bukit Makes--disebut juga Benteng Lapis 7.
Benteng Kikit Gewen terbuat dari bebatuan alam yang disusun seperti pagar setinggi dada. Di bagian dalam, pepohonan tumbuh subur dan rimbun mirip hutan kecil. Cukup kontras dengan savana yang nyaris tanpa pohon. Dulunya, benteng kecil ini digunakan para pahlawan (meo) untuk mengatur strategi atau melakukan uji kekebalan tubuh sebelum maju ke medan perang.
Sementara Benteng Lapis 7, merupakan benteng pertahanan suku Uma Metan dari Kerajaan Dirun pada zaman dulu, yang digunakan ketika di pedalaman Timor masih marak terjadi perang antarsuku. Sesuai nama, ada beberapa lapisan pertahanan mulai dari pintu masuk hingga lapisan terakhir.
Di bagian dalam terdapat makam dari sang raja pertama Kerajaan Dirun, Raja Dasi Manu Loeq, sehingga dikeramatkan oleh masyarakat sekitar.
Menilik banyaknya potensi wisata di Fulan Fehan, saat ini Kemenpar RI sedang gencar mempromosikan Atambua dengan segenap destinasi unggulannya ke dunia luar. Salah satunya dengan menggelar Crossboarder Festival.
"Karena itu, Crossborder Festival akan terus kami gencarkan di banyak titik yang berbatasan dengan negara tetangga. Membesarkan pariwisata, menaikkan kunjungan wisman, sekaligus menghidupkan ekonomi sosial masyarakat di perbatasan," jelas Menpar Arief Yahya.
Tentu saja. Bagi warga lokal, padang Fulan Fehan adalah sumber mata pencaharian. Walau untuk masuk sebetulnya bebas biaya, warga mengadakan pungutan liar sebesar Rp20 ribu per mobil. Mereka juga menjual panganan semacam kacang dan ubi rebus bagi pelancong yang bertandang.
Kelak, mereka tak lagi merasa sebagai orang pinggiran dari daerah perbatasan, melainkan pintu masuk dan wajah terdepan di Tanah Air Indonesia.
Tengok koleksi foto Lembah Fulan Fehan berikut
@guptawijaya

@rniela
madep_mburi
dwianikm
Sumber: beritagar.id
Editor: Rikard Djegadut