Kisah Kelam di Balik Popularitas Nama Manggarai di Jakarta
Cari Berita

Advertisement

Kisah Kelam di Balik Popularitas Nama Manggarai di Jakarta

Thursday, April 12, 2018

Jakarta, Infonewsia.com - Manggarai merupakan kawasan di Jakarta Selatan yang secara geografis terbagi dua, yakni Kelurahan Manggarai Selatan dan Manggarai Utara, Kecamatan Tebet.
Hampir bisa dikatakan bahwa semua penduduk Jabodetabek akrab dengan nama tempat tersebut. Banyak media sering mengeskpose tempat tersebut baik karena keberadaan Pasar Manggarai, Stasiun Kereta Api Manggarai yang menjadi sentral transit kereta berbagai jalur, juga lantaran menjadi langganan tetap banjir saat dureng atau musim hujan tiba. 
Namun di balik ketenarannya itu, tersimpan sejarah pilu yang mengharuskan kita untuk mengaikannya dengan nama Manggarai yang juga tak kalah sohornya, yakni sebuah daerah yang berada  di ujung Barat pulau Bunga atau pulau Flores di NTT. 
Menurut cerita yang dihimpun dari berbagi sumber,  ada kisah pilu di balik penamaan Manggarai di Jakarta tersebut. Nama ‘Manggarai’ berkaitan erat dengan nama daerah yang ada di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. 
Dalam buku “Asal-usul Nama Tempat di Jakarta” yang ditulis oleh Rachmat Ruchiat,  nama ‘Manggarai’ kemungkinan diberikan oleh kelompok penghuni awal, yaitu orang-orang dari Flores Barat, yakni kabupaten Manggarai. 
Masih menurut Rachmat, orang-orang Flores pertama kali menempati wilayah Manggarai sekitar tahun 1770. Orang-orang Flores yang bermukim sengaja menamakan kawasan yang mereka tempati di ibukota Jakarta tersebut dengan nama Manggarai. Hal ini bertujuan sebagai pengikat kenangan pada kampung halaman yang mereka tinggalkan.
Sejarawan asal Jakarta, Alwi Shahab, atau yang akrab disapa Abah Alwi, pernah juga menulis soal daerah Manggarai. Dalam tulisan yang pernah dimuat Republika pada Mei 2004 berjudul ‘Meester Cornelis dan Kapten Yonker’, Abah Alwi mengatakan jika dahulunya, Manggarai adalah tempat konsentrasi para budak dari Nusa Tenggara Timur.
Selain Abah Alwi, Zaenuddin HM penulis buku "212 Asal Usul Djakarta Tempoe Doeloe", dalam bukunya setebal 377 halaman yang diterbitkan Ufuk Press pada 2012 menjelaskan bahwa nama kawasan tersebut diberikan oleh kelompok penghuni awal yaitu orang-orang yang berasal dari Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Bursa Budak dan Lahirnya Pasar Rumput
Pada awal abad ke-17, daerah Manggarai pernah menjadi pusat perdagangan budak yang didatangkan dari Manggarai, Flores Barat. Bursa budak di kawasan ini erat hubungannya dengan Menteng Buurt (lingkungan Menteng), yaitu tempat orang Belanda mencari jongos dan bedinde.
Pada masa lampau, memiliki budak adalah salah satu penanda strata sosial dari masyarakat. Semakin banyak budak yang dimiliki semakin penting posisi dan kedudukannya didalam masyarakat.
Di Batavia sendiri, fenomena perbudakan juga marak. Umumnya para budak diambil paksa dari berbagai daerah lain di Indonesia yang ditaklukkan oleh VOC.
Fenomena perbudakan yang marak pada masa itu dimanfaatkan para pemilik perkebunan untuk memutar usahanya. Perkebunan – perkebunan yang dikenal sebagai tanah – tanah partikelir itu umumnya luas dan memiliki rumah yang dikenal sebagai “landhuis” tempat dimana para tuan tanah tersebut tinggal.

Baca juga: Ribuan Umat Paroki Orong Ikuti Prosesi Jalan Salib Hidup

Kemudian ketika perbudakan mulai sepi, pasar di Manggarai masih tetap ramai, yang diperjual-belikan bukanlah budak tetapi pakan ternak yaitu rumput. Sehingga dari aktivitas pasar yang telah berubah tersebut  lahirlah nama Pasar Rumput yang kini banyak dikenal orang.
Tari Lenggo Menjadi Bukti Yang Tersisa
Bukti bahwa nama Manggarai yang ada di Kotamadya Jakarta Selatan ini berkaitan erat dengan nama daerah yang ada di Nusa Tenggara Timur adalah ditemukannya Tari Lenggo. Sebelum pecah Perang Dunia II, di Manggarai berkembang sebuah tarian yang dikenal dengan nama Lenggo, yaitu tarian yang diiringi orkes berupa tiga buah rebana biang.
Bukti ini kemudian diperkuat dengan keterangan Abdurrahman, mantan Kepala Jawatan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang mengakui bahwa di Bima juga terdapat tarian sejenis, namanya pun sama, yakni tari Lenggo.
Selanjutnya Jaap Kunst, seorang ahli etnomusikologi, dalam bukunya Music in Java jilid II juga menyajikan gambar tarian tersebut. Namun, nama tarian Lenggo itu sekarang berubah menjadi tari Belenggo, yang merupakan salah satu tarian tradisi Betawi.
Sementara itu, di Nusa Tenggara Timur juga terdapat tarian sejenis yang bernama sama yakni tari Lenggo. Maka, tidak mustahil jika tari Belenggo merupakan perkembangan dari tari Lenggo, melalui orang-orang asal Flores yang menjadi penghuni awal kawasan  Manggarai tersebut.
Dengan demikian, bukti-bukti tersebut memperkuat adanya kaitan yang sangat erat antara nama ‘Manggarai’ di Jakarta Selatan dengan nama daerah Manggarai  di Nusa Tenggara Timur. (*)

Penulis: Rikar Djegadut