Mengapa BKH? Tentang Sejam Jumpa di Dua Tahun Silam | Infonewsia

Mengapa BKH? Tentang Sejam Jumpa di Dua Tahun Silam

Catatan, Infonewsia.com - Semenjak gong pilkada NTT ditabuh beberapa waktu lalu, tensi perbincangan politik di warung kopi semakin meninggi. Silang pendapat di kampung maya pun kian mengencang. Perang opini dengan beragam dalil menghiasi group-group besar facebook.

Ada yang begitu serius menyodorkan argumentasi politik, ada pula yang numpang lewat, sekedar memeriahkan ruang maya dengan basis argumentasi yang pas-pasan. Tak sedikit juga yang mampir sebentar, mengedarkan narasi hujatan untuk memantik emosi publik.

Tentu, dalam keadaan seperti itu, rupanya agak sulit meredam penyebaran opini yang barangkali selalu singgah di dinding akun. Namun, satu hal yang perlu diapresiasi adalah, masyarakat NTT dengan segala kesadarannya sebagai makhluk politik, berhasil masuk dalam ruang dialektika publik.

Memang, idealisme Habermas yang mendudukan rasionalitas dalam percakapan publik masih jauh dari jangkauan penghuni kampung maya. Atau pun medan pertandingan pikiran yang kerap disabdakan Rocky Gerung, dengan amunisi akal sehat masih belum tuntas diterapkan di sana.

Tentu kita tidak harus bertahan dalam psimisme macam ini. Setidaknya, di balik keterlibatan mereka menyimpan semacam panggilan nurani kolektif yang oleh Gunawan Muhammad disebut sebagai perayaan tekad. Tekad untuk mengahantar NTT ke garis depan perubahan.

Kini, perang opini itu mengerucut pada sosok kandidat yang dianggap mampu menakhodai NTT lima tahun ke depan. Ada empat paket yang telah 'direstui' KPUD beberapa waktu lalu: Esthon L Foenay-Christian Rotok (Esthon-Chris), Benny K Harman-Benny A Litelnoni (Harmoni), Marianus Sae-Emmilia Nomleni (Marianus-Emmi), dan Viktor Bungtilu Laiskodat-Joseph Nae Soi (Victory-Joss).

Tidaklah berlebihan jika menyebut keempat paket ini adalah representasi kader terbaik yang dimiliki NTT. Meskipun saat ini, kita kehilangan salah satu figur yakni Marianus Sae yang sedang berurusan dengan KPK, namun, tekad mereka hampir sama: membawa NTT pada sebuah perubahan.

Boleh jadi, panggilan untuk mengabdi itu tidak pernah terlepas dari predikat NTT sebagai provinsi termiskin, terkorup, sarang perdagangan manusia, dan borok pendidikan Indonesia.

Sebagai masyarakat NTT yang punya hak dan tanggung jawab politik, saya tentu punya penilaian personal soal para kandidat. Ada beberapa dalil politik yang menjadi basis pertimbangan sebelum pada penentuan sikap. Saya kira, hampir semua masyarakat NTT mengoleksi beragam dalil sebelum menentukan pilihan.

Ada yang karena ikatan emosional, ada yang karena relasi politik dan 'kaul ketaataan' pada perintah partai, ada pula yang karena diberi imbalan, baik berupa uang maupun janji jabatan politis lainnya. Pokoknya macam-macam.

Dalil politik sebetulnya mengerucut pada sebuah prinsip politik untuk menghindari kekacauan politik seperti yang digambarkan Machiavelli dalam The Prince. Sebab, politik tanpa prinsip sebagai penuntun, demikian Machiavelli, ia akan menjadi perebutan kekuasaan telanjang.

Beberapa hari lalu, di sebuah warung bakso, saya disodorkan sebuah ulasan menarik tentang salah seorang kandidat. Dalam ulasan berjudul 'Bravo BKH' itu,  sang penulis memulai ulasannya dengan menyentil tiga nama yang sepertinya tidak asing lagi bagi kita.

Anggota DPR RI Budiman Sudjatmiko, intelektual dan pegiat HAM Rocky Gerung dan rohaniwan Katolik sekaligus pejabat KWI Romo Benny Susetyo. Sang penulis memberikan catatan bahwa tiga tokoh dengan latar belakang berbeda itu menyampaikan pesan yang sama: BKH politisi berkualitas.

Tentu, menyimpulkan BKH sebagai politisi berkualitas tidak pernah terlepas dari permenungan rasional ketiga tokoh ini. Kiprah BKH dalam arena politik, keterlibatannya dalam aksi kemanusiaan, konsistensinya menegakkan hukum, setidaknya menjadi sumber permenungan mereka.

Saya tak punya relasi spesial dengan BKH. Bukan keluarga, bukan pula serahim partai. Dengan BKH, saya pun tak sedekat para pemikir macam Mas Rocky, aktivis dan politisi macam Budiman atau rohaniwan macam Romo Benny. Tapi, murni karena kekaguman personal.

Kekaguman itu bukan tanpa dasar. Selain mennyimak gaya bicaranya di TV,  membaca ulasannya yang menggigit di Kompas, menyaksikan kelihaiannya saat memimpin rapat paripurna di Senayan, pun melacak rekam jejaknya mulai ia masuk ibu kota hingga saat ini, tentu ada beberapa 'kesaksian' personal yang masih membekas dalam ingatan hingga saat ini.

Dua tahun lalu, awal masuk ibu kota. Saya diajak seorang sahabat menemui Pak Benny Harman di Senayan. Waktu itu, ada tiga topik yang kami persiapkan; politik, hukum dan pendidikan.

Sebetulnya, dari beberapa obrolan di warung kopi, mempersiapkan konten yang berbobot sebelum menemui bliau adalah hal yang mutlak dilakukan. Sebab,  basa-basi ala politisi ecekan tak dipakai di sana. Perjumpaan adalah kesempatan menukar ide.

Dugaan saya benar. Kami diterima oleh salah satu stafnya. Ia masih muda. Saat itu sedang melanjutkan studi magister di Universitas Indonesia. Secara sepintas bisa terbaca, kedekatannya dengan orang muda tak perlu diragukan lagi.

Di dalam ruangan, bliau sedang menunggu. Koran cetak nasional dan internasioanal berserakan. Di atas meja, baberapa gelas kopi sudah disiapkan. Buku-buku kelas berat berjejeran di lemari. Kami memulai diskusi.

"Bagaimana, ada yang mau didiskusikan?" pak Benny memulai.

Semua gugup untuk bicara. Hendak mulai dari mana? Konsep awal yang disepakati sudah jelas,  hanya ketika berhadapan langsung, semua ide hilang. Rupanya Pak Benny memahami psikologi kami. Pembicaraan diambil alih.

Soal pendidikan, Pak Benny menempatakan literasi sebagai basis utama. "Berapa buku yang sudah anda baca" menjadi titik star memasuki pergumulan di dunia pendidikan.

Sementara soal politik, keberpihakan pada orang tertindas dengan menekankan konsistensi pada nilai merupakan sesuatu yang tak bisa ditawar. Apalagi bicara soal hukum yang menjadi menu santapannya setiap hari. Ia selalu berseberangan dengan komplotan penggadai pasal-pasal.

Tentu, gagasan yang disodorkannya bukan bualan semata. Ia intelektual,  kental dengan cara berpikir rasional. Berani berbeda dengan alasan masuk akal menjadi spirit yang selalu dihidupinya.

Sebagai politisi, argumentasi politik yang dimunculkan ke publik terlihat kontroversial bagi sebagian orang. Tetapi, ia selalu meyakinkan dirinya untuk setia berdiri di atas garis kebenaran, meski pun harus menenggak serangan dan fitnah lawan politik.

Pertemuan itu hampir sejam. Badan terasa kaku, enggan bergerak. Roti bakar di atas piring tak ada yang lirik. Ada sebuah kerinduan, ia akan menumpahkan seperempat ilmunya saat itu. Sayangnya, waktu tak cukup. Ia harus melanjutkan sidang.

Pertemuan usai. Yang kami bawa pulang bukan uang, tetapi ilmu, spirit kehidupan dengan menjunjung tinggi nilai. Ini cerita dua tahun lalu. Hingga saat ini, saya belum menemukan ketidaksesuaian antara apa yang diucapkan saat itu dengan kehidupannya sebagai pelayan rakyat. Dan hal itulah yang memantapkan pilihan saya pada BKH.*



Penulis: Bro Andyka, Pengagum BKH, pernah merantau di Jakarta. 

Catatan Redaksi:                                             

Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Infonewsia.com*

KOMENTAR

Featured Post

Teater Taki Mendi: Catatan Perbudakan di Tanah Batavia

Jakarta, INFONEWSIA.COM - Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Komunitas Perempuan Manggarai bersama sang...

Popular Posts

Name

Agustinus Marsirinus Baut Tutup Usia,2,Alex Ganggu,1,Alexander Wilhelmus Yosef Hamboer,1,Analisis,1,Artikel,24,Asmirandah,1,ASN NTT,1,Aturan Ganjil Genap,1,Baim Wong,1,Baiq Nuril,1,Banten,1,Batavia Tahun 1627,1,Bocah Kelas 2 SD Tewas,1,Bocah Perempuan Tewas Mengenaskan,1,Budaya,16,Caleg DPRD,1,Carolus Hamboer,1,Congko Lokap,1,Dialog Imajiner,1,Dibunuh Pedangang Bubur Ayam Keliling,1,Dinas PKO Mabar,1,Dominasi Pihak Asing,1,Don Bosco Selamun,1,Dosen Untar & Trisakti,1,DPRD Bulukumba,1,DPRD Marah,1,Driver Grab,1,Driver online meninggal,1,Ekonomi,4,Eva Yanthi Arnaz,1,Facebook,1,Ganja,1,Gempa Bumi,1,Gendang Werak,1,Gerald N. Bibang,1,Gerard N. Bibang,1,Gerhana Bulan,1,Gojek,1,Grab,1,Gubernur NTT,1,Ibrahim Peyon,1,IKBL,1,Indonesia,1,Jantung Asia,1,Jokowi ke Labuan Bajo,1,Jokowi Kunjungi Manggarai Barat,1,Kabar Bohong,1,Kakar Tana,1,Kalvin Duta OSN,1,Keluarga Besar Lembor Raya Jabodetabek,1,Kepala BNPN Tutup Usia,1,Kiriman Pembaca,1,Kisah Eva Arnas,1,Kota Seribu Jerigen,1,Kue dan DPRD,1,Kunjungan Jokowi,1,Labuan Bajo,1,Lexy Hamboer,1,Lifestyle,5,Lowongan Kerja,1,Mabar,1,Mafia Air di Labuan Bajo,1,Mahasiswa UKI,1,Mahasiswa UKI St. Paulus Ruteng,1,Mahasiswa/i,1,Mahasiswi Cantik,1,Malam Kudus,1,Marsha Timothy,1,Maya,1,Nafa Urbach,1,Natalie Sarah,1,Opini,12,Orang Manggarai,1,Pater Cornelius Leo Adrianus,1,Pater Edwin Bernard Timothy,1,Paul Serak Baut,1,Pelepasan Jenazah,1,Pembangunan Pariwisata Manggarai Barat,2,Pemred MetroTV,1,Penegakan Hukum,1,Penemuan Tank Tua,1,Perbudakan,1,Profil,3,PT. Angkasa Pura Propertindo,1,Puisi,5,Putra Bos Konstruksi Baja,1,Ratu Film Panas Indonesia,1,Rikard Djegadut,1,Roman,1,Salib Suci,1,Salmafina Sunan,1,Sandiaga Uno,1,Sastra,8,Selat Sunda,1,Semester Akhir,1,Sepeda Motor,1,Surat Terbuka,1,Sutopo Purwo Nugroho meminta maaf,1,Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia,1,Sutopo Purwo Nugroho Tutup usia,1,SVD,1,Tank Tua Merauke,1,Teater Taki Mendi,1,Tidak Disiplin,1,Transportasi Daring,1,Tsunami Banten,1,Tya Dwiardianti,1,Update,24,Ustadz Abdul Somad,1,Viktor Laiskodat,2,Waktu Gerhana Bulan,1,Wilhelmus Syukur,1,Wisata,15,Zara Zettira,2,Zara Zettira Hina Pesantren,1,Zara Zettira Penulis,2,
ltr
item
Infonewsia: Mengapa BKH? Tentang Sejam Jumpa di Dua Tahun Silam
Mengapa BKH? Tentang Sejam Jumpa di Dua Tahun Silam
Pilgub NTT, BKH pantas menjadi Gubernur. Kiprahnya di dunia politik, hukum dan pendidikan menjadikannya layk dan pantas.
https://2.bp.blogspot.com/-nvkodbO4bJ8/WsRZJQWpAnI/AAAAAAAAAPo/svXOSgYP6rAy1iciCcVgK7EWJyj5XHh2ACLcBGAs/s640/Benny%2BK%2BHarman.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-nvkodbO4bJ8/WsRZJQWpAnI/AAAAAAAAAPo/svXOSgYP6rAy1iciCcVgK7EWJyj5XHh2ACLcBGAs/s72-c/Benny%2BK%2BHarman.jpg
Infonewsia
https://www.infonewsia.com/2018/04/mengapa-bkh-tentang-sejam-jumpa-di-dua.html
https://www.infonewsia.com/
https://www.infonewsia.com/
https://www.infonewsia.com/2018/04/mengapa-bkh-tentang-sejam-jumpa-di-dua.html
true
7293979240380718745
UTF-8
Semua artikel Tidak ditemukan artikel LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda LAMAN ARTIKEL Lihat Semua Rekomendasi LABEL ARSIP PENCARIAN SEMUA ARTIKEL Tidak ditemukan artikel pencarian Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mggu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Pengikut Ikuti KONTEN PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy