Langke Orong dan Panggilan Untuk Pulang Kampung
Cari Berita

Advertisement

Langke Orong dan Panggilan Untuk Pulang Kampung

Sunday, May 6, 2018

Cerita, Infonewsia.com - Langke Orong, demikian saya menamai pohon beringin yang tumbuh gagah nan rindang di tengah-tengah perkampungan Orong. Sebuah kampung di Kecamatan Welak, Manggarai Barat yang menyimpan sejumlah kenangan -  bahwa tumbuh dan berangkat dari kampung  halaman - ke mana pun engkau pergi, adalah kerugian besar bila tidak dikenang.
Langke Orong Dan Panggilan Untuk Pulang Kampung

Karena itu - sungguh kawan - ini tidak semata soal keinginan anak rantau yang menulis supaya tempat kelahirannya dikenal publik. Tetapi lebih dari itu semua, termasuk mereka yang coba berprasangka. Namun apa pun semuanya itu- coretan ini adalah panggilan jiwa, sekaligus desakan rindu yang kian membuncah bahwa tiada tempat berpulang paling indah selain ke pangkuan "ibu kampung".

Ingin Pulang, Kenapa Harus Langke?

Sobat, rasanya tidak terlalu penting jika melihat langke* itu secara fisik semata. Apa sial ia tumbuh di tengah perkampungan, hanya mengganggu pemandangan semata. Dedaunannya membuat sampah berserakan di mana-mana. So lebih baik ditebang, urusan beres. Bukan begitu? Kan simpel. He...jangan dulu kawan.

Baca juga:

Gadis Sunda dan Sambulawa, Tentang Rindu di Akhir Senja


Jika engkau orang luar (bukan kelahiran kampung Orong) adalah sah-sah saja berkomentar demikian. Tapi, jika ternyata kita seasal, rasanya anda terlalu gegabah. Sebab dengan begitu, anda sebenarnya menolak dan secara vulgar dan membumi-hanguskan kisah kita. 

Kisah apa? Kisah minum 'tuak'*  di bawah pohon langke yang setelahnya anda bisa bicara tak karuan, membuat warga kampung terusik?  Dan mungkin anda yang dibantai kenikmatan 'BM nomor 1'* sesekali pernah joget sana-sini,  membuat gadis belia dari kampung sebelah yang sempat lewat cengingisan melihat tingkah anehmu? Entahlah, setiap kita  yang pernah bercengkerama di sana tentu punya kisah unik masing-masing.

Tapi begini, saya mengajak kita, untuk melihat makna terdalam dari setiap kenangan. Semisal minum tuak. Dalam skala tertentu, minum tuak tanpa terukur itu memicu konflik. Oleh hal yang sepele orang bisa bertikai. Namun, pengalaman mereguk 'setimpes'* (satu cangkir) tuak pada sore hari di bawah rimbunan 'langke' memberi kisah lain.

Minum 'tuak' justru menghangatkan persaudaraan. Minum tuak akan lebih terukur, mungkin karena minum di bawa 'langke' yang strategis, tepat di tengah-tengah kampung, sehingga kontrol publik untuk melihat aktivitas kita semakin besar. Apapun sebenarnya bisa kau lakukan di sana. Tapi ingat, harus dalam koridor yang baik dan benar terukur, dan lebih penting tidak pernah boleh bertentangan dengan norma masyarakat setempat.

Baca juga: 

Membedah Kata 'Terima Kasih' dari Perspektif Bahasa Manggarai


Tapi sobat itu dulu, saat di mana lembaran seribu rupiah terlalu berharga untuk anak seusia saya pada waktu itu. Masa di mana ketika mendapat pemberian uang sebesar Rp. 5000 dari Om, saya gunakan untuk membeli kaye'* (buku sekolah) dan sisanya dianggarkan membeli karet membuat kartupel (ketapel).

Maklum, waktu itu identitas kami ditentukan oleh kepemilikan ketapel. Jika tidak punya, anda dinilai kurang jago dan ketinggalan jaman. Identitas yang tentunya bertolak belakang memang  jika diasosiasikan dengan jaman sekarang. Jaman di mana uang sepuluh ribu rupiah dihabiskan dalam sekejap untuk separuh rokok, atau mungkin sekadar bersenang-senang, menghabiskan uang sebesar itu dengan mendatangkan sebotol 'sopi'* dari rumah sebelah.

Sobat karenanya, panggilan untuk pulang paling menoreh rindu adalah kembali ke pengkuan kenangan - tempat di mana engkau menghabis masa kecil dengan menghidupkan kembali riak-riak kenangan. Masih banyak kenagan lain, tapi edisi ini sampai di sini dulu, akan berlanjut di lain kesempatan.



Penulis: Rian Agung
Editor: Rikard Djegadut 

Catatan:
*1 Langke (Bahasa Manggarai) = pohon beringin
*2 Tuak (Bahasa Manggarai) = Minuman alkohol traditional khas Manggarai atau 'Moke' untuk Flores umumnya
*3 BM no.1 (Bahasa Manggarai) = BM(Bakar Menyala) Jenis tuak yang kadar alkohol yang tinggi. Bila cairannya dibakar, makan akan menyala.
*4 Setimpes (Bahasa Manggarai) = satu cangkir  
*5 Kaye (Bahasa Manggarai) = buku catatan sekolah 
*6 Sopi (Bahasa Manggarai) = Jenis tuak dengan kadar alkohol yang rendah. Umumnya, bentuk cairannya berwarna putih. 


*Apakah kamu merasa bangga dengan daerah kalian dan ingin memperkenalkannya ke dunia luar, bergabunglah bersama Infonewsia.com dengan cara  mengirimkan artikel kamu ke redaksi @ Infonewsia.com