Sekolah Tungku Mane: Narasi Paul Serak Baut Oleh Gerard N. Bibang | Infonewsia

Sekolah Tungku Mane: Narasi Paul Serak Baut Oleh Gerard N. Bibang

Infonewsia.com - Orang sederhana itu telah pergi dengan gagah sebagaimana ajarannya: “Dengan tungku mane, bergagah-gagahlah dalam kemiskinan.” Istrinya, Ratna Nurung, menyatakan “Kak Paul sangat bahagia” meskipun bagi setiap yang terlibat kematian selalu ada semacam derita manusiawi yang membungkusnya.
 
Foto: Paul Serak Baut
Paul dipanggil Allah justru di puncak optimisme keluarganya atas kesehatannya. Ia mulai berjalan tanpa banyak bantuan dan berbicara tanpa hambatan. Pagi itu ia sempat menonton televisi dan – celakanya—bersiar tentang banjir melanda Jayapura. Ia tampak gusar. Lalu meminta istrinya menghubungi orang-orang yang dicintainya di sana menanyakan khabar mereka. Tidak anonim tetapi ia menyebut nama mereka satu per satu, jelas dan jernih. Setelah diketahuinya mereka baik-baik saja, ia seakan merasa tugasnya di dunia selesai, memanggil istrinya untuk menyalin pakaian sebentar, tahu-tahu itulah saat ia berpamitan. Ia pergi tanpa arah kembali.

Itulah Paul. Kematiannya ibarat candle light phenomenon, kata orang. Yaitu lilin yang apinya membesar dan memancarkan cahaya sangat benderang, sebelum akhirnya padam. Namun tetap memberikan ruang sebesar-besarnya kepada penyelenggaraan Mori Keraeng Ema Pu’un Kuasa, Allah Maha Kuasa, untuk membikin lilin membenderang apinya, kemudian tidak padam. Atau lilin tidak pernah membenderang dan lantas padam.

Itulah Paul. Sakitnya berkepanjangan tapi tanpa kunjung maut menjemputnya. Yang tampak malah biasa-biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa, yang lantas membuat orang-orang tercinta tidak direpotkan dengan kadar derita sakit yang dialaminya dan takaran jenis kesengsaraan yang menimpanya, dan ini pula yang membuat khalayak ramai tidak perlu mengetahui atau turut menghayati deritanya. Ia bahagia di dalam anugerah kemuliaan yang diterimanya dalam derita.

Itulah Paul. Dari dulu sampai akhir hayatnya, tetap menjadi seorang Paul, yang lebih banyak dicontohi daripada dikagumi, yang mutu hidupnya tidak perlu ditakar oleh kualitas mautnya, oleh cara bagaimana kematiannya atau oleh berapa banyak pelayat yang datang melihatnya. Tidak ada jenis dan wilayah ilmu manusia apapun yang bisa dipakai untuk merumuskan hidup dan matinya. Ia tetaplah Paul, seserpih rahasia di antara jagat raya tak terhingga.

60-an Ke Sini


Bagi kami adik-adiknya yang kelahiran tahun 60-an ke sini, kualitas hidupnya yang demikian bukanlah surprise. Itulah Paul yang kami kenal. Hidupnya adalah sebuah tungku mane, sebuah menyambung senja, yang bernarasi sambung menyambung demi survive di dunia, sambil bertabur kebaikan dan kasih sayang.

Apa itu tungku mane? Ialah menyambung senja, sebuah akhir dari siang menuju gelap, sebuah imaji untuk keredupan namun diyakini akan berlanjut dalam sambung menyambung narasi dan cerita.

Untuk istilah tungku mane sendiri, bagi kami adik-adiknya, amat populer akhir tahun 70-an hingga awal 80-an, dari tulisan ilmiah populer Paul S. Baut di majalah dwi Mingguan Dian di Ende, yang di akhir tulisan selalu ditulis: Paul S. Baut, ketua kelompok studi Tungku Mane.

Belum jelas locus delicti istilah itu. Kadang ia bercerita tentang Jogya, kadang tentang Jakarta. Saat itu, ke Jawa adalah primadona dan prestise. Dari studi tungku mane-lah, orang NTT memperoleh aufklaerung (= pencerahan) bahwa Jawa tidak selalu identik dengan luxus atau kemewahan. Hati-hati memilih sekolah di Jawa karena cukup banyak sekolah tinggi yang hanya papan nama, alias hanya ada nama saja.

Ketika kemudian saya ke Jakarta awal 90-an, dari teman-teman pergaulannya diperoleh informasi bahwa tungku mane bukan kelompok studi formil tetapi kongko-kongko orang Manggarai diaspora Jakarta yang diberi dimensi ilmiah, yaitu wacana-wacana tentang segala hal, politik, ekonomi, pendidikan, macam2 sambil minum sprite atau sopikiriman dari kampung. Sungguh suatu keberanian luar biasa karena justru diadakan di era Orde Baru yang sedang kuat-kuatnya membungkam kebebasan berbicara dan berpendapat. Keterkekangan itu oleh Paul dikemas menjadi oase pemikiran bernas. So Eine Gute Idee!

Maka apa itu tungku mane? Ialah bernarasi, berwacana, saling mengisi, mendukung, membantu sambil melakukan perjalanan kehidupan. Apakah ini pekerjaan? Apakah ini profesi? Bisa iyah, bisa tidak. Bukankah kehidupan ini adalah rentetan kisah dan narasi? Bukankah kehidupan ini diciptakan oleh KATA ‘terjadilah’ maka segala yang di-kata-kan itu tercipta?

Bukankah kehidupan ini tidak merupakan ruang dengan kotak-kotak nama ruang insinyur, pegawai, petani, penganggur, presiden, babu, advokat, pengusaha melainkan hanya bulatan tanpa segi dengan pintu dan berpintu-pintu dan kita diminta untuk bersungguh-sungguh membuka pintu demi pintu? Bukankah berbuat baik itu adalah juga sebuah pekerjaan tanpa berdasi dan berjas di dalam ruang AC? 

Ada yang menjadi keranjang sampah tempat orang membuang apapun saja yang mereka tak mau hal-hal itu ada pada dirinya; atau menjadi tukang tambal ban; menyorong truk mogok; menjahit yang robek-robek; menerangi yang gelap; menghimpun yang terserak; memadamkan sekam yang akan menjadi ledakan api; menemani yang sakit; menyapa yang kesepian; menghibur yang sedih; memijiti yang pegal-pegal; mengisi yang kosong; mengingat yang dilupakan; memungut yang dibuang; menyenangkan orang dengan antara lain menulis narasi atau melucu-lucu.

Semua hal tetek bengek dan tidak dianggap banyak orang ini adalah pekerjaan sungguh-sungguh bagi Paul. Saya yakin akan hal ini. Karena saya tahu skripsi sarjananya di STF Driyarkara ialah tentang filsafat nilai menurut filsuf Jerman Max Scheller. Bagi orang yang paham prioritas nilai, kebenaran tidak pernah diperoleh dengan sekali genggaman tetapi melalui wacana demi wacana, narasi demi narasi, atau tombo-tombo menurut istilah kita di Manggarai.

Jadilah tombo-tombo sebagai filsafat kehidupan Paul. Maka siapakah Paul bagi kami adik-adiknya? Ia adalah tungku mane. Pribadinya dan rumahya adalah sekolah tungku mane. Dua kunci master untuk membuka pintu berpintu-pintu dalam tungku mane yaitu keterbukaan dan mendengarkan.

Semua tahu rumahnya di Pasar Genjing, Pramuka, open 24 jam. Ketika pindah ke Cibubur, pola yang sama berlaku: open 24 jam. Barulah bertahun-tahun kemudian muncul istilah open house tetapi Paul sudah melaksanakannya bagi kami jauh sebelum istilah itu lahir. Ia dan istrinya Ratna amat open kepada siapa saja tanpa memilih dan memilah hanya bergaul dengan yang ini, bukan dengan yang itu. Makan juga apa adanya, banyak kali saung daeng cemba (=daun singkong rebus), karena bagi tungku mane, makan ialah untuk metabolisme tubuh dan tidur adalah istirahat syaraf jika dalam kelelahan.

Kunci master kedua ialah mendengarkan, listening to, bukan hearing. Seumur-umur sampai usia saya berbau pupuk dan tanah ini, Paul adalah satu dari sedikit orang yang memiliki kharisma mendengarkan. Ia menyimpan segala sesuatu yang didengarnya di dalam hati.

Saya yakin bahwa apa yang didengarnya hanya daur ulang atau wora-wora semi joak (=candaan-candaan semu). Toh ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Belakangan barulah saya paham mengapa ia gemar menggunakan istilah ‘memperhatikan’. Kalau saya lupa sesuatu, atau cerita mengada-ngada, ia biasanya nyeletuk: kurang perhatian ghau (=kau).

Apalagi posisi saya sebagai orang yang masa kecilnya ia tahu persis dan memanggil dan menyebut saya pun dengan panggilan nama masa kecil. Kawasan Rangga, Waemata, Tando, Ker, Nangka adalah wilayah main masa kecilnya waktu di Rangga. Ia juga teman kelas dengan beberapa kakak dan saudari saya. Sering saya mati kutu jika mulai cerita tentang kampung meski ia tetap mendengarkan saya hingga selesai dan banyak kali tersenyum bukan karena kisahnya tetapi karena ia tahu sudah seberapa jauh joak (=bual) yang saya ceritakan. Kelirukah ia? Bercandakah ia? Tidak!

Memper-HATIKAN-kan ialah menaruh sesuatu dalam hati. Apa yang ditaruh dalam hati, sulit dilupakan. Apakah ia tidak tahu? Justru karena ia tahu banyak sehingga ia mendengarkan. Ia bagaikan samudera dalam tanpa riak-riak gelombang. Pengetahuannya bersifat anggom agu rangko, intensif, menukik sekaligus ekstensif dan korelasional.

Tungku Mane


Kini ketika tubuhnya menjadi humus di dalam tanah dan jiwanya berbahagia di surga, apakah yang ia wariskan kepada kami adik-adiknya? Hanya satu. Ialah tungku mane.

Dalam tungku mane, hidup manusia memang menjadi tua dan redup tapi mencintai dan berbagi adalah kewajiban pemanusiaan. Sebuah cinta yang benar ialah cinta yang tidak pernah diikat dunia. Sebab jika langkah manusia mendarat di batas tiba, maka kematian sungguh-sungguh tidak perlu diundang.

Dalam tungku mane, jika engkau berpikir, berpikirlah efisien. Janganlah menghabiskan tenaga dan waktu untuk  kesementaraan, melainkan untuk keabadian. Janganlah pula menumpahkan profesionalisme untuk menggapai uang, harta, rumah besar, nama besar dan sebagainya, yang toh tidak akan menyertaimu selama-lamanya. Ini adalah kesederhanaan dalam arti yang sedalam-dalamnya dan sebenar-benarnya.

Dalam tungku mane, merasa nikmat tidak selalu berarti kalau karier sukses, pendapatan berlimpah, rumah besar, nama besar dan saham bertebaran di mana-mana. Bukan, bukan!

Nikmat ialah menjadi orang yang merangkum sebanyak mungkin orang. Bahwa yang dimaksud keluarga bukanlah sebatas sanak famili dan koneksi, melainkan meluas ke sebanyak mungkin saudara-saudara sesama manusia. Bahwa keberlimpahan kita adalah keberlimpahan banyak orang. Saham kita adalah saham harapan banyak orang. Kebahagiaan kita adalah bank masa depan orang banyak.

Dan Paul telah melaksanakan semua ini dengan tuntas kepada istri, anak-anak dan adik-adiknya serta semua yang pernah mampir di sekolah tungku mane-nya di Pramuka dan Cibubur.

Terimakasih kepada ka’e Paul untuk sekolah paling berharga ini yang engkau titipkan kepada istrimu Ratna. Engkau tidak mati. Engkau abadi bersama kami.

Sebab yang kami adik-adikmu punyai saat ini adalah budaya instan, pola berpikir sepenggal, perhatian terlalu rendah terhadap kemanusiaan, serta kefakiran yang luar biasa terhadap kualitas hidup. Padahal kata Chairil Anwar:

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi Kaulah yang tentukan nilai tulang-tulang itu…
untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan…


 ****
Terimakasih, terimakasih!


(GNB:TMN ARIES: JKT: SABTU: 27.4.2019: 
Narasi dalam rangka misa 40 malam Paul S. Baut aula SMA Antonius Matraman)

*Gerard N. Bibang adalah penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menabiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta. 



KOMENTAR

Featured Post

Teater Taki Mendi: Catatan Perbudakan di Tanah Batavia

Jakarta, INFONEWSIA.COM - Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Komunitas Perempuan Manggarai bersama sang...

Popular Posts

Name

Agustinus Marsirinus Baut Tutup Usia,2,Alex Ganggu,1,Alexander Wilhelmus Yosef Hamboer,1,Analisis,1,Artikel,24,Asmirandah,1,ASN NTT,1,Aturan Ganjil Genap,1,Baim Wong,1,Baiq Nuril,1,Banten,1,Batavia Tahun 1627,1,Bocah Kelas 2 SD Tewas,1,Bocah Perempuan Tewas Mengenaskan,1,Budaya,16,Caleg DPRD,1,Carolus Hamboer,1,Congko Lokap,1,Dialog Imajiner,1,Dibunuh Pedangang Bubur Ayam Keliling,1,Dinas PKO Mabar,1,Dominasi Pihak Asing,1,Don Bosco Selamun,1,Dosen Untar & Trisakti,1,DPRD Bulukumba,1,DPRD Marah,1,Driver Grab,1,Driver online meninggal,1,Ekonomi,4,Eva Yanthi Arnaz,1,Facebook,1,Ganja,1,Gempa Bumi,1,Gendang Werak,1,Gerald N. Bibang,1,Gerard N. Bibang,1,Gerhana Bulan,1,Gojek,1,Grab,1,Gubernur NTT,1,Ibrahim Peyon,1,IKBL,1,Indonesia,1,Jantung Asia,1,Jokowi ke Labuan Bajo,1,Jokowi Kunjungi Manggarai Barat,1,Kabar Bohong,1,Kakar Tana,1,Kalvin Duta OSN,1,Keluarga Besar Lembor Raya Jabodetabek,1,Kepala BNPN Tutup Usia,1,Kiriman Pembaca,1,Kisah Eva Arnas,1,Kota Seribu Jerigen,1,Kue dan DPRD,1,Kunjungan Jokowi,1,Labuan Bajo,1,Lexy Hamboer,1,Lifestyle,5,Lowongan Kerja,1,Mabar,1,Mafia Air di Labuan Bajo,1,Mahasiswa UKI,1,Mahasiswa UKI St. Paulus Ruteng,1,Mahasiswa/i,1,Mahasiswi Cantik,1,Malam Kudus,1,Marsha Timothy,1,Maya,1,Nafa Urbach,1,Natalie Sarah,1,Opini,12,Orang Manggarai,1,Pater Cornelius Leo Adrianus,1,Pater Edwin Bernard Timothy,1,Paul Serak Baut,1,Pelepasan Jenazah,1,Pembangunan Pariwisata Manggarai Barat,2,Pemred MetroTV,1,Penegakan Hukum,1,Penemuan Tank Tua,1,Perbudakan,1,Profil,3,PT. Angkasa Pura Propertindo,1,Puisi,5,Putra Bos Konstruksi Baja,1,Ratu Film Panas Indonesia,1,Rikard Djegadut,1,Roman,1,Salib Suci,1,Salmafina Sunan,1,Sandiaga Uno,1,Sastra,8,Selat Sunda,1,Semester Akhir,1,Sepeda Motor,1,Surat Terbuka,1,Sutopo Purwo Nugroho meminta maaf,1,Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia,1,Sutopo Purwo Nugroho Tutup usia,1,SVD,1,Tank Tua Merauke,1,Teater Taki Mendi,1,Tidak Disiplin,1,Transportasi Daring,1,Tsunami Banten,1,Tya Dwiardianti,1,Update,24,Ustadz Abdul Somad,1,Viktor Laiskodat,2,Waktu Gerhana Bulan,1,Wilhelmus Syukur,1,Wisata,15,Zara Zettira,2,Zara Zettira Hina Pesantren,1,Zara Zettira Penulis,2,
ltr
item
Infonewsia: Sekolah Tungku Mane: Narasi Paul Serak Baut Oleh Gerard N. Bibang
Sekolah Tungku Mane: Narasi Paul Serak Baut Oleh Gerard N. Bibang
Sekolah Tungku Mane: Narasi Paul Serak Baut Oleh Gerard N. Bibang. Profil Paul Serak Baut dan perjalanan hidupnya.
https://1.bp.blogspot.com/-pYW3zBiGIuc/XMUy33q84iI/AAAAAAAANg0/x7R_E3NoxcMNtJz-kOnXEB3UKM7XFfXwwCEwYBhgL/s640/Narasi%2Bdan%2Bprofil%2BPaul%2BSerak%2BBaut.png
https://1.bp.blogspot.com/-pYW3zBiGIuc/XMUy33q84iI/AAAAAAAANg0/x7R_E3NoxcMNtJz-kOnXEB3UKM7XFfXwwCEwYBhgL/s72-c/Narasi%2Bdan%2Bprofil%2BPaul%2BSerak%2BBaut.png
Infonewsia
https://www.infonewsia.com/2019/04/sekolah-tungku-mane-narasi-paul-serak.html
https://www.infonewsia.com/
https://www.infonewsia.com/
https://www.infonewsia.com/2019/04/sekolah-tungku-mane-narasi-paul-serak.html
true
7293979240380718745
UTF-8
Semua artikel Tidak ditemukan artikel LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda LAMAN ARTIKEL Lihat Semua Rekomendasi LABEL ARSIP PENCARIAN SEMUA ARTIKEL Tidak ditemukan artikel pencarian Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mggu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Pengikut Ikuti KONTEN PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy