Iman Yang Mencari, Narasi Agustinus M. Baut Oleh Gerard N. Bibang | Infonewsia

Iman Yang Mencari, Narasi Agustinus M. Baut Oleh Gerard N. Bibang

Infonewsia.com - Usia 64 tahun. Penyakit mendera tubuh dan jiwanya bertahun-tahun. Tiada hari tanpa obat, semua ini mengisyaratkan bahwa kematian bisa terjadi kapan saja. Itulah yang terjadi Kamis 6 Juni kemarin. Ia memeluk saudara maut dengan gagah sesuai dengan motto yang ia kumandangkan selama hidupnya: iman katolik menuju surga!
 
Agustinus Marsirinus Baut, Dosen Untar & Trisakti Meninggal Dunia di RS. Polri, Jakarta, Kamis (6/6/2019)  (Photo: ist.)
Ia pergi tanpa mengagetkan siapa-siapa. Juga tidak menabrak logika manusia. Itulah cara kematian seorang profesional beriman. Ia seorang katolik. Imannya adalah taruhannya. Adalah hidupnya. Maka tak akan pernah akan ia gadaikan imannya dengan dunia dan nikmat-nikmatnya.

Ini beberapa alasan. Ia seorang guru agama Katolik. Sarjana muda bergelar BA ilmu kateketik dari APK (Akademi Pendidikan Kateketik), yang sekarang menjadi Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng. Kateketik ialah ilmu yang secara ilmiah mempelajari kiat-kiat dan metodologi beriman dan merawatnya sehingga iman tidak menjadi barang mewah di ruang hampa tetapi menjadi nyata senyata-nyatanya dalam hidup seorang Katolik.

Jadilah ia seorang teolog Katolik pada zamannya sejak medio 70-an di Manggarai, Flores, NTT hingga akhir hayatnya di RS. Polri, Jakarta. Hidupnya adalah iman Katoliknya. Iman Katoliknya adalah hidupnya.

Ia kemudian mengajar agama Katolik - dan beberapa bidang studi lain- di SMP Gaya Baru Nangalili Lembor, Manggarai Barat, sebelum akhirnya hijrah ke ibukota negara Jakarta dengan mengajarkan dan menyaksikan iman Katoliknya melalui mata kuliah yang tak berurusan langsung dengan agama Katolik di UNTAR dan Universitas Trisakti. Jadilah ia teolog dan profesional iman sekaligus.

Apa yang membuat seorang Agus begitu yakin akan iman Katoliknya? Seperti diketahui, sebagai mahasiswa teologi, pada tempat pertama selalu ditanamkan sebuah adagium: saya beriman agar bisa lebih memahami banyak, saya belajar banyak agar bisa lebih teguh beriman. Yang dalam istilah Latinnya, berbunyi: Credo ut intelligam. Intelligo ut credam.  

Ungkapan ini kemudian oleh Santo Anselmus dari Canterbury (1035-1109 ) diolah menjadi adagium baru: Fides quaerens intellectum yaitu iman yang mencari pengertian. Bahwa orang harus percaya terlebih dahulu, baru dalam bingkai kepercayaan itu, ia mencari pengertian dan penjelasan-penjelasan atas kebenaran imannya. Intinya, semakin beriman maka akan semakin cerdas berilmu, semakin berilmu maka akan semakin teguh beriman.

Maka, siapakah seorang beriman Katolik itu? Ialah manusia yang selalu mencari untuk semakin memahami. Manusia yang tidak mencari adalah makhluk yang pada hakikatnya belum manusia. Ia hanya hewan yang bergerak makan minum didorong oleh insting dan naluri seperti arus liar di aliran sungai atau daun kering yang diterbangkan oleh angin.

Kedengarannya kasar tetapi itulah ungkapan paling pas untuk manusia yang malas. Yah itu tadi: menjadi cerdas adalah panggilan setiap orang beriman. Bahkan menjadi kewajiban pemanusiaan.

Jalan Mengajar

Hingga Jakarta, profesional beriman ia rawat dengan jalan mengajar melalui pekerjaan guru. Ia anak seorang guru SD, Tadeus Baut di SDK Amba, Lembor Selatan, yang juga dikenal sebagai pemain bola piawai pada zamannya sekaligus sebagai komponis lagu rohani Katolik. Darah guru mengalir dalam tubuh Agus.

Maka terpahami sekali jika Agus dalam gaya pembicaraannya lebih banyak menggurui atau sok moralis, kata anak milenial sekarang. Terkesan tahu lebih banyak dan lebih benar, sedikit agak memaksa agar lawan bicara menerima argumentasinya. Sejatinya tidak demikian.  Gayanya itu hanyalah modus operandi dari etos guru yang mendarah-daging dalam dirinya. Bagi profesional beriman berlaku rumus ini: mengajar adalah tiga kali belajar dan menulis adalah tiga kali membaca.

Dua contoh. Ketika tiba di Jakarta awal 90-an, sebagai seorang adik, saya dan beberapa kami yang lainnya sering main ke rumahnya di Grogol, depan gereja katolik BHK dan sering saya dengar nasihatnya yang kontroversial. Misalnya, jangan terlalu banyak kongko-kongko sama orang Manggarai, nanti kamu tambah bodoh. Tapi pada kesempatan lain, kami melihat ia berkumpul dengan kelompok Manggarai lain dan tampaknya ia happy. Ia semangat berbagi cerita hal-hal baru yang didengarnya dalam pertemuan itu. Selalu ada istilah yang berulang-ulang: memang edi’an kole sumang tau gho (=bagus juga ya perjumpaan ini), selalu mencerahkan!” Seperti biasa, kami manggut seolah-olah mengerti dan ikut berekspresi happy.

Kedua, akhir 70 hingga awal 80-an di Lembor, Manggarai, Flores, NTT. Waktu itu musim pesta sekolah dan Agus sebagai pioner Manggarai diaspora Jakarta yang sedang berlibur selalu diminta beri petuah. Ini statement-nya yang kontroversial: jangan ke Jakarta!

Memang ada penjelasan lanjutannya tetapi frase ‘Jangan ke Jakarta’ selalu menjadi refrein, diulang-ulang dengan nada tegas dan pelan. Padahal, pada masa itu, ke Jawa, apalagi ke ibukota negara, dianggap sebagai suatu kemewahan dan prestise. Orang-orang di kampung bertanya: bukankah hak orang untuk ke Jakarta?

Sebelas tahun kemudian, barulah sempat saya bertanya, sementara dalam hati saya dengan arogan bersiap-siap untuk berargumentasi: ‘ka’e (=kak) Agus, masih ingat ka pidato waktu pesta sekolah di Lembor dulu?”
“iyah, ase (=dek), kenapa?’’
“Jangan ke Jakarta”
Hahahaahahaha, dia tertawa kencang sekali. Saya heran. Koq ketawa, lucunya di mana ya. Tapi hanya bergumam dalam hati. Saya mulai gusar. Aduh, Skenario adu argumentasi bakal berantakan neh.
Iyo ase nuk ka’eng laku (=iyah dek, masih ingat saya)”
Iyo ka’e, ai tombo laing lata danong (=iyah kak, jadi omongan orang waktu itu)
Eng bae laku ta ase (=tahu saya, dek). Saya mau umpan mereka ka supaya berpikir untuk kita diskusi sama-sama, supaya saling berbagi pengalaman.”

Lalu pernyataan berikut ini membuat saya tidak berkutik: “ Ta ase (=dek) Gerard, memang saya ini siapa larang orang ke Jakarta. Rezeki tiap orang sudah diatur dari atas, mau di Manggarai atau di Jakarta, semua sudah ada jatahnya.”

Jujur, saya malu sejadi-jadinya, sampai-sampai bukan gelas es teh manis saya yang kuambil untuk minum, tetapi gelasnya ka’e Agus yang sebelah sana.

Apakah Agus inkonsisten? Tidak! Apakah Agus sok-sok-an? Tidak! Seiring perjalanan waktu dan sedikit ilmu yang direngkuh, belakangan akhirnya saya paham bahwa Agus adalah seorang profesional beriman Katolik yang adalah guru. Bukan karena ia anak guru. Karena cukup banyak juga anak guru yang tidak jadi guru.

Pernyataan-pernyataan kontroversialnya adalah bukti nyata ethos profesional beriman Katoliknya sebagai guru. Memang begitulah seorang guru. Guru sejati adalah yang membuka peluang seluas-luasnya agar murid bergerak melangkah sendiri mengembarai cakrawala-cakrawala kemungkinan ilmu. Tindakan terburuk seorang guru adalah kalau ia memberitahukan sesuatu atau menyodorkan informasi-informasi, yang sebenarnya merupakan hak azasi murid untuk menelusuri dan memperolehnya secara mandiri.

Ethos ini lahir dari mana kalau bukan dari iman Katoliknya, yang senantiasa mendorongnya untuk mencari dan mencerahkan dengan siapa pun yang ia temui, baik itu istri atau anak sekalipun.

Mulia dan Hina

Dalam iman yang mencari seperti ini, hidup manusia berjalan linear, lahir, berjuang survive, menjadi tua, redup lalu mati. Tapi mencari dan mengais kebenaran adalah kewajiban pemanusiaan dan cara paling pas dalam mencinta ialah tanpa putus saling mencerahkan sejauh-jauh kemampuan.

Maka, hitam putih, pintar bodoh yang menjadi ukuran kualitas hidup, tidak laku. Segala sesuatu diredefinisi. Kejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyamar. Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah itikad baik yang terlalu polos. Dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan.

Sehingga terpahami jika Agus, selama hidupnya, hanya melayani pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan iman katoliknya. Sementara pertanyaan-pertanyaan yang dianggapnya konyol, diabaikannya begitu saja, misalnya, ‘Pak Agus sudah dapat apa dan berapa banyak,’ atau “Pak Agus sudah punya apa?” Iyah jelaslah. Hidupnya adalah mencari dan mengais ilmu demi semakin memahami imannya yang diyakininya jalan termudah menuju surga. Karena untuk apa berjuang mati-matian di dunia ini untuk hal-hal yang nanti pasti kamu tinggalkan dan meninggalkan kamu?

Tapi ada satu prinsip yang tak ditawar-tawar: berjuang mencari itu mulia, menyerah itu hina. Prinsip ini dengan tegar ia tuntaskan hingga akhir hayatnya.
Sampai jumpa di surga, ka’e Agus.

****
(GNB:TMN ARIES: JKT: KAMIS: o6. 6. 2019: Narasi ini dibacakan di akhir misa tutup peti di Rumah Duka St. Carolus, Jakarta)


*Gerard N. Bibang adalah penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menabiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta. 




KOMENTAR

Featured Post

Pemred MetroTV, Don Bosco Selamun Perintahkan Wartawannya Usut Tuntas Mafia Air Minum di Labuan Bajo

Labuan Bajo, Infonewsia.com - Pernyataan ini disampaikan oleh Don Bosco Salamun saat memberikan materi konferensi Sekolah-sekolah Katolik...

Popular Posts

Name

Agustinus Marsirinus Baut Tutup Usia,2,Alexander Wilhelmus Yosef Hamboer,1,Analisis,1,Artikel,24,ASN NTT,1,Baiq Nuril,1,Batavia Tahun 1627,1,Budaya,16,Caleg DPRD,1,Carolus Hamboer,1,Dominasi Pihak Asing,1,Don Bosco Selamun,1,Dosen Untar & Trisakti,1,Ekonomi,4,Eva Yanthi Arnaz,1,Facebook,1,Gerald N. Bibang,1,Gerard N. Bibang,1,Gubernur NTT,1,Ibrahim Peyon,1,IKBL,1,Jantung Asia,1,Kakar Tana,1,Keluarga Besar Lembor Raya Jabodetabek,1,Kiriman Pembaca,1,Kisah Eva Arnas,1,Lexy Hamboer,1,Lifestyle,5,Mabar,1,Mafia Air di Labuan Bajo,1,Mahasiswi Cantik,1,Malam Kudus,1,Opini,12,Paul Serak Baut,1,Pelepasan Jenazah,1,Pembangunan Pariwisata Manggarai Barat,2,Pemred MetroTV,1,Penegakan Hukum,1,Profil,3,Puisi,5,Ratu Film Panas Indonesia,1,Rikard Djegadut,1,Sandiaga Uno,1,Sastra,7,Selat Sunda,1,Tidak Disiplin,1,Tsunami Banten,1,Tya Dwiardianti,1,Update,24,Viktor Laiskodat,2,Wilhelmus Syukur,1,Wisata,15,
ltr
item
Infonewsia: Iman Yang Mencari, Narasi Agustinus M. Baut Oleh Gerard N. Bibang
Iman Yang Mencari, Narasi Agustinus M. Baut Oleh Gerard N. Bibang
Narasi hidup Agustinus Marsiarinus Baut, Dosen Universitas Trisakti dan Tarumanegara yang meninggal di RS. Polri Jakarta, Kamis, 6 Juni 2019
https://1.bp.blogspot.com/-q55PvmP0cDU/XPldrRiXUZI/AAAAAAAAOPM/PIaQhqTylOQ8O8SaltIgIc0mQEKSsT59QCLcBGAs/s640/Agus%2BBaut.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-q55PvmP0cDU/XPldrRiXUZI/AAAAAAAAOPM/PIaQhqTylOQ8O8SaltIgIc0mQEKSsT59QCLcBGAs/s72-c/Agus%2BBaut.jpg
Infonewsia
https://www.infonewsia.com/2019/06/iman-yang-mencari-narasi-agustinus-m.html
https://www.infonewsia.com/
https://www.infonewsia.com/
https://www.infonewsia.com/2019/06/iman-yang-mencari-narasi-agustinus-m.html
true
7293979240380718745
UTF-8
Semua artikel Tidak ditemukan artikel LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda LAMAN ARTIKEL Lihat Semua Rekomendasi LABEL ARSIP PENCARIAN SEMUA ARTIKEL Tidak ditemukan artikel pencarian Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mggu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Pengikut Ikuti KONTEN PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy