Wajah Langit: Narasi Alexander Wilhelmus Yosef Hamboer oleh Gerard N. Bibang | Infonewsia

Wajah Langit: Narasi Alexander Wilhelmus Yosef Hamboer oleh Gerard N. Bibang

Narasi, Infonewsia.com - Jikalau kematian merupakan kritik terhadap kehidupan, maka kepergian saudara Lexy – demikain panggilan sayang untuk seorang bernama lengkap Alexander Wilhelmus Yosef Hamboer -- selasa 11 Juni lalu bukan semata-mata karena 'Mori Keraeng,Tuhan Allah sangat sayang padanya tapi juga sekaligus mengingatkan semua yang ditinggalkan bahwa sederhana itu indah.
Alexander Wilhelmus Yosef Hamboer
Alexander Wilhelmus Yosef Hamboer tutup usia (Foto: dok.pribadi)
Untuk 70 tahun hidupnya, tiada yang lebih pas merangkumnya kecuali dengan empat baris bait terakhir 'Sajak Sederhana Untuk-MU', karya Cak Nun (=Emha Ainun Nadjib) ini: /Tuhan, ambillah aku/ sewaktu-waktu/ kematianku hendaknya sederhana saja/ orang-orang menguburku hendaknya juga dengan sederhana saja.
Ia menggenapkan hidupnya di angka 70 meskipun resminya secara fisik baru tgl 18 September nanti. Wouww. Indah dan mulia, bukan? Memang begitulah hakekat sederhana. Selalu menggenapkan, tidak ribet, apa adanya, simpel, yang berbuahkan indah dan mulia.
Nah, mengapa 70? Angka tujuh secara Biblis adalah simbol kesempurnaan, kepenuhan dan ketuntutasan. Seperti pesan Yesus, Sang Guru: ampunilah sesamamu manusia tujuh puluh kali tujuh kali, yang berarti, mengampuni jangan setengah-setengah, tapi harus ikhlas dan tak terhitung. Tuntas, sempurna dan sepenuh-penuhnya.
Itulah hidup seorang Lexy. Ayahnya Carolus Hamboer adalah bupati kedua dalam sejarah administratif kabupaten Manggarai. Semua orang tahu. Bagi mereka yang berusia 'esde' akhir enam puluhan hingga awal tujuh puluhan, nama ini begitu populer. Bahkan di SDK Waemata, Lembor, nama Carolus Hamboer ditanyakan dalam mata pelajaran agama Katolik.
Belum tahu persis kenapa tapi yang selalu terjadi waktu itu ialah guru kelas kami yang hebat dan piawai, Kashmir Abul, sebelum memulai pelajaran agama katolik selalu mengingatkan kami siswa siswi kelas empat dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu sama:
Siapa nama Uskup Ruteng?
Wilhemus Van Bekkum, jawab kami, serempak
Uskup Agung kita?
Donatus Djagom
Bapa Suci di Roma?
Paulus Keenam
Pastor paroki Rangga?
Geraduz Mezemberg
Bupati Manggarai?
Carolus Hamboer
Lalu spontan kami beramai-ramai bertepuk tangan. Yang ingin saya katakan bahwa Carolus Hamboer itu orang besar, terkenal dan agung pada zamannya. Sementara Lexy Hamboer, putra sulungnya? Lalu kesepuluh adik-adiknya?
Siapakah Lexy, yang menempuh pendidikan SMA Syuradikara Ende dan tahun 1969 langsung ke Jakarta belajar di UNKRIS kemudian menghabiskan waktu dan energinya untuk pekerjaan yang berhubungan dengan ilmu  jasa percetakan?
Siapakah Lexy, yang meskipun ia tahu kebesaran dan keagungan nama ayahnya, tapi tidak menggunakan kesempatan itu untuk membesarkan dirinya padahal ia bukanlah orang bodoh yang hanya mengandalkan otot dan dengkul? Toh pilihan ini ada padanya dan andaikata ia mau, pasti bisa dan dapatkan apa yang ia mau. Tapi yang terjadi sebaliknya.
Pertanyaan-pertanyaan ini hanya upaya kerdil untuk menguak misteri kesederhanaan Lexy. Yang semakin ditanyakan, semakin tidak mengerti, yang akhir-akhirnya tiba pada jawaban final: yah, memang beginilah Lexy, apa adanya, nyaman, happy, indah, yang dirangkum dalam satu kata: sederhana!
Jalan Ke Surga
Kesan adik-adiknya mengkonfirmasi kesimpulan ini. Bahwa pilihan untuk sederhana, ia ambil dengan sengaja sebagai jalan yang ia yakini lebih mulus mengantarnya menuju surga.
Apakah kesederhaan itu? Ialah bersaksi tentang hidup yang biasa-biasa dan tentang dunia yang hanya bisa sederhana karena jenis dan standar kebahagiaannya memang sangat biasa-biasa saja.
Maka kaki orang sederhana tidak perlu meloncat menggapai langit karena tak ada yang ia kejar hingga lari terbirit-birit. Tangannya tidak perlu mengacungkan tinju ke angkasa karena tak ada satu unsur apapun dalam kehidupan ini yang membuatnya kagum dan terpana selain 'Mori Kerang Ema Pu’un Kuasa' Tuhan Allah Maha Kuasa.
Keyakinan ini tidak mengalir begitu saja kalau bukan dari iman katolik yang sederhana, yang ia ambil modelnya pada seorang perempuan desa yaitu Bunda Maria, Ibu Yesus. Iman yang ia terima melalui tetesan iman ayahnya Carolus Hamboer, membuatnya yakin bahwa Allah itu ada di mana-mana. Sebab iman sederhana itu berbunyi: Allah ada di mana-mana, menyelenggarakan yang terbaik bagimu, maka untuk apa berjuang mati-matian mendapatkan sesuatu yang suatu saat nanti pasti kamu tinggalkan dan meninggalkanmu.
Darah Manggarai yang membudayakan imannya itu dipasok oleh doa tradisonal ayahnya ketika ia diberangkatkan ke Jakarta: 'parn awo kolepn sale, ulun le wa’in lau', di dalamnya ia diserahkan kepada Tuhan penguasa alam semesta yang mengatur peredaran waktu dan musim, sembari menyerahkan hidupnya di tanah rantau kepada Mori Keraeng sebagai satu-satunya penopang kehidupan: 'Ame Rinding Mane, Ine Rinding Wie, Bapa penjaga senja, Mama penjaga malam.
Sejak saat itu. Lexy yang remaja dan muda belia meyakini seyakin-yakinnya bahwa Mori Keraeng adalah transenden sekaligus imanen. Maka ora et labora, berdoa dan bekerja, menjadi nyawa dalam kesehariannya.
Sebab dalam keyakinan ini, doa adalah ungkapan intimintas relasinya dengan Tuhan. Tidak ada wilayah kehidupan dan pengalamannya di dunia yang dipisahkan dari Tuhan. Tidak ada waktu istimewa dan tempat khusus untuk DIA. Pemisahan antara yang profan dan kudus tidak terjadi secara tegas. Doa dan kerja membentuk kehidupannya yang sepenuhnya bernilai religius dan seutuhnya manusiawi. Tuhan bukan hanya urusan hari Minggu. DIA tidak hanya dijumpai di Gereja. DIA adalah ALLAH yang dijumpai dan menjumpai manusia dalam seluruh peristiwa hidup pribadi, keluarga dan kolektif.
Iman sederhana seperti ini, Lexy terjemahkan dalam kehidupan sosial dengan tidak memompa-mompa energi dan ototnya untuk menyentuh siapa-siapa karena ia tidak tertarik pada kemenangan atas manusia. Kalaupun ia bercita-cita mengembara sampai ke ruang hampa, menjadi ini dan itu, tapi hatinya tidak ikut serta karena ia sudah lama selesai dengan dirinya sendiri dan tak meminta apa-apa.
Terhadap dunia, tak ada sekilaspun padanya mimpi menaklukkan dunia. Sebab dunia ini sangat murah harganya dan hanya beberapa tetes keringat dari badannya yang ia relakan untuk dunia karena tujuan hidupnya bukan untuk dunia.
Maka, yang kentara pada perilaku sehari-harinya ialah rendah hati, kalimat yang terukur, seperti tidak sebagai siapa-siapa dan bukan apa-apa, padahal tahu-nya banyak, mendalam dan bernas. Memang begitulah sederhana.
Dalam sederhana tidak ada sedikitpun minat terhadap kehebatan diri karena jenis kelemahannya satu-satunya adalah kebiasaan untuk menertawakan dirinya sendiri atau berkisah tentang apa adanya, yang kecil-kecil dan lucu-lucu.
Di sisi lain, jika ada orang beramai-ramai tersesat menjunjungnya atau mengangkat-angkat menurut istilah sanak saudaranya di Manggarai, volume kepalanya tidak membesar dan hatinya tetap bisa mengantuk, tidur lelap mengikuti irama alam.
Sehingga jelaslah, kesan kuat padanya, seperti disaksikan oleh teman dekat dan adik-adiknya, oleh istri dan anaknya ialah kebesaran nama dan kegagahan amat sangat ia remehkan dan tak akan pernah ia kenakan sebagai pakaian.
Dalam kesederhanaan seperti ini, yang disebut bahagia itu ialah menjadi orang yang merangkum sebanyak mungkin orang. Bahwa yang dimaksud keluarga itu bukanlah sebatas sanak keluarga tetapi menjaring seluas-luasnya ke sebanyak mungkin saudara-saudara sesama manusia.
Dan ini yang penting: bahwa keberlimpahannya adalah keberlimpahan banyak orang. Sahamnya adalah saham harapan banyak orang. Pada akhirnya kebahagiaannya adalah bank masa depan orang banyak.
Ini semua telah ia lakukan dengan tuntas hingga kematiannya terhadap istri tercinta Christina Tegol dan putri semata wayang Lisye Hamboer.
Wajah Langit
Menjelang usia senjanya, sangat mudah untuk menyebut siapakah Lexy itu. Dari wajahnya saja, memancar kerjernihan. Enak dipandang apalagi didekati. Kata-katanya menyejukkan, menuntun dan tidak menggurui. 'Lembak nai', kata orang Manggarai sana: sabar dan baik hati.
Di usia sepuhnya, ia makin ganteng wajahnya dan makin bening cahaya yang memancar dari wajah itu. Bahkan kulit beliau yang aslinya coklat, kini menjadi cenderung kuning-putih. Itu bukan wajah Lexy yang kita kenal dalam definisi kebudayaan di dunia. Itu langit!
Langit ialah pancaran cahaya yang selalu identik dengan keindahan. Itulah Lexy, si wajah langit. Keindahan adalah puncak-puncak dari baik dan benar. Menyimpan sedikit rahasia bagi yang belum mengenalnya tapi selalu menyingkapkan kebenaran abadi dengan terang benderang: di dunia ini, engkau tidak bertinggal tetap. Engkau hanya diminta melakukan perjalanan sembari bertabur kasih sayang menuju keabadian di sebelah sana.
Kak Lexy, sampai jumpa di surga!
***

(GNB:TMN ARIES: JKT: MINGGU: 16. 6. 2019)

*Gerard N. Bibang adalah penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menabiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta. 





KOMENTAR

Featured Post

Tak Hanya Salmafina Sunan, Para Artis Cantik Ini Juga Pindah Keyakinan

Sosok, INFONEWSIA.COM - Nama Salmafina Sunan tengah menjadi sorotan atas kabar pindah keyakinan yang dilakukannya. Meski tak secara gamb...

Popular Posts

Name

Agustinus Marsirinus Baut Tutup Usia,2,Alexander Wilhelmus Yosef Hamboer,1,Analisis,1,Artikel,24,Asmirandah,1,ASN NTT,1,Aturan Ganjil Genap,1,Baiq Nuril,1,Batavia Tahun 1627,1,Bocah Kelas 2 SD Tewas,1,Bocah Perempuan Tewas Mengenaskan,1,Budaya,16,Caleg DPRD,1,Carolus Hamboer,1,Dibunuh Pedangang Bubur Ayam Keliling,1,Dinas PKO Mabar,1,Dominasi Pihak Asing,1,Don Bosco Selamun,1,Dosen Untar & Trisakti,1,DPRD Bulukumba,1,DPRD Marah,1,Ekonomi,4,Eva Yanthi Arnaz,1,Facebook,1,Gerald N. Bibang,1,Gerard N. Bibang,1,Gerhana Bulan,1,Gubernur NTT,1,Ibrahim Peyon,1,IKBL,1,Indonesia,1,Jantung Asia,1,Jokowi ke Labuan Bajo,1,Jokowi Kunjungi Manggarai Barat,1,Kabar Bohong,1,Kakar Tana,1,Kalvin Duta OSN,1,Keluarga Besar Lembor Raya Jabodetabek,1,Kepala BNPN Tutup Usia,1,Kiriman Pembaca,1,Kisah Eva Arnas,1,Kota Seribu Jerigen,1,Kue dan DPRD,1,Kunjungan Jokowi,1,Labuan Bajo,1,Lexy Hamboer,1,Lifestyle,5,Lowongan Kerja,1,Mabar,1,Mafia Air di Labuan Bajo,1,Mahasiswi Cantik,1,Malam Kudus,1,Marsha Timothy,1,Nafa Urbach,1,Natalie Sarah,1,Opini,12,Pater Cornelius Leo Adrianus,1,Pater Edwin Bernard Timothy,1,Paul Serak Baut,1,Pelepasan Jenazah,1,Pembangunan Pariwisata Manggarai Barat,2,Pemred MetroTV,1,Penegakan Hukum,1,Penemuan Tank Tua,1,Profil,3,PT. Angkasa Pura Propertindo,1,Puisi,5,Putra Bos Konstruksi Baja,1,Ratu Film Panas Indonesia,1,Rikard Djegadut,1,Salmafina Sunan,1,Sandiaga Uno,1,Sastra,7,Selat Sunda,1,Sepeda Motor,1,Sutopo Purwo Nugroho meminta maaf,1,Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia,1,Sutopo Purwo Nugroho Tutup usia,1,Tank Tua Merauke,1,Tidak Disiplin,1,Tsunami Banten,1,Tya Dwiardianti,1,Update,24,Viktor Laiskodat,2,Waktu Gerhana Bulan,1,Wilhelmus Syukur,1,Wisata,15,Zara Zettira,2,Zara Zettira Hina Pesantren,1,Zara Zettira Penulis,2,
ltr
item
Infonewsia: Wajah Langit: Narasi Alexander Wilhelmus Yosef Hamboer oleh Gerard N. Bibang
Wajah Langit: Narasi Alexander Wilhelmus Yosef Hamboer oleh Gerard N. Bibang
Alexander Wilhelmus Yosef Hamboer, putra sulung mantan Bupati kedua Manggarai, Flores, tutup usia di usia yang ke 70.
https://1.bp.blogspot.com/-72MxEhP3qIs/XQeO5q0VpQI/AAAAAAAAORU/1GPNMO8ZMNQYuAEWk-U7WC4Pp6M8L3qswCLcBGAs/s640/Alexander%2BWilhelmus%2BYosef%2BHamboer.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-72MxEhP3qIs/XQeO5q0VpQI/AAAAAAAAORU/1GPNMO8ZMNQYuAEWk-U7WC4Pp6M8L3qswCLcBGAs/s72-c/Alexander%2BWilhelmus%2BYosef%2BHamboer.jpg
Infonewsia
https://www.infonewsia.com/2019/06/wajah-langit-narasi-alexander-wilhelmus.html
https://www.infonewsia.com/
https://www.infonewsia.com/
https://www.infonewsia.com/2019/06/wajah-langit-narasi-alexander-wilhelmus.html
true
7293979240380718745
UTF-8
Semua artikel Tidak ditemukan artikel LIHAT SEMUA Selengkapnya Balas Batal balas Hapus Oleh Beranda LAMAN ARTIKEL Lihat Semua Rekomendasi LABEL ARSIP PENCARIAN SEMUA ARTIKEL Tidak ditemukan artikel pencarian Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mggu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu lalu Pengikut Ikuti KONTEN PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy