Dialog Imajiner Dengan Alex Ganggu, SVD oleh Gerard N. Bibang
Cari Berita

Advertisement

Dialog Imajiner Dengan Alex Ganggu, SVD oleh Gerard N. Bibang

Friday, July 26, 2019

Sosok, INFONEWSIA.COM - Dalam rasa rindu terhanyut mengenang kepergiannya, saya sampai-sampai membayangkan Pater Alex bangkit dari kuburnya di Ende, menumpang oto kolt (=bis kayu) ke Ledalero, Maumere, berjumpa dengan saya di tangga samping Kapel Agung dan bertanya: Oe (=hai) Bibang, seperti apa kau punya dunia sekarang?
Dialog Imajiner Dengan Alex Ganggu, SVD oleh Gerard N. Bibang
Alex Ganggu, SVD (Foto. Gerard N Bibang)
Pater, saya dan teman-temanku yang dulu nakal, lugu dan lucu-lucu, kini tengah memasuki apa yang dinamakan screen culture. Budaya di mana layar sentuh memalingkan segalanya. Sepetak kecil layar yang membuat berita tidak lagi berjalan satu arah. Sepetak kecil layar yang potensinya mengalahkan mahalnya properti tepi jalan raya di ibukota. Sepetak kecil layar yang membuka kesempatan bagi banyak orang untuk lebih bisa sama-rata.
Aduh kasian e. Lalu bagaimana tahunya seseorang kerja atau malas?
Nah, itu dia, Pater. Ukurannya ada di layar sentuh. Touchscreen dengan segala cache-nya menjadi saksi dari mana di antara kami yang benar-benar sibuk dan mana yang diam-diam masih selow alias ngonde (=malas). Masing-masing sibuk memproduksi konten, atau selow menebar komentar. Asyik menyerap realitas, atau selow sehingga terbius arus dan termakan hura-hura.
Olee, rame ye (=ramai dong! Tiap orang sibuk sentuh layar masing-masing, tidak jelas siapa mendengarkan siapa, siapa mengatakan apa. Begitu ka?
Memang itulah faktanya, Pater. Masing-masing kami menentukan alat analisanya sendiri-sendiri. Apakah kami bagian dari generasi yang adaptif menghadapi cepatnya transformasi teknologi informasi, atau kami adalah bagian dari the nervous generation yang gagap dan gugup digulung kebaruan-kebaruan yang datang dengan begitu cepat. Kami membuat hoaks. Di ruang kelas atau pesta serta perhelatan umum, kami-kami bertemu tapi sibuk berkomunikasi dengan diri sendiri di layar sentuh. Orang boleh berpidato berapi-api di depan tapi tidak ada jaminan orang itu didengarkan. Siapa mendengarkan siapa berbatas halus sehalus sutera.
Aeh (=lha) kau jangan pakai istilah canggih. Hau ho’o e (=memang kau ini)! Hoaks itu apa?
Khabar bohong, Pater. Dengan analisa sendiri-sendiri tadi melalui sentuhan layar masing-masing, kami memproduksi apa saja, termasuk hoaks dengan semau-mau, dengan berasumsi semua penyimaknya akan termakan terpedaya. Sementara kami memilih menyimak sekadarnya saja sembari terus menerus melatih geraham dan taring berfikir kami, untuk semakin peka mengamati pola-pola manipulasi yang terjadi setiap hari. Sebab kami sadar bahwa hoaks barulah bentuk manipulasi yang paling kasat mata. Sadar bahwa, yang sedang membombardir kami hari ini dengan begitu halus adalah narasi-narasi yang dibuat dengan semau-mau.
Aeh ta (=Wualaahhhh) Bibang, duniamu aneh-aneh, masih perang kalau begitu, perang kata, perang narasi.
Mantul, Pater
Mantul dari mana?
Akronim itu, Pater. Artinya mantap betul. Istilah anak-anak muda di sini. Itulah yang terjadi sekarang. Kami sedang sengit-sengitnya di medan perang narasi. Data digunakan untuk melawan data. Fakta digunakan untuk menelan fakta. Data dan fakta dipaksakan untuk membuat sebuah cerita, dipakai untuk membuat argumentasi, yang semuanya dibuat dengan semau-mau. Kabur kebenarannya, digiring kaca mata kudanya sedemikian rupa, disediakan ranjau-ranjau hasutan tak kasat mata. Pikiran-pikiran yang tidak diasah bersiap-siap disihir oleh insepsi alur berfikir yang tidak nalar, yang dibuat dengan semau-mau, entah untuk kepentingan siapa. Sehingga merasa keadaan sedang baik-baik saja. 
****
(Cuplikan dari PUISI ALEX, Narasi 7 thn Kepergian Alex Ganggu, SVD)
*Gerard N. Bibang adalah penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menabiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta. saja.