Mahasiswa UKI St. Paulus Ruteng Ramaikan Upacara Congko Longkap Gendang Werak
Cari Berita

Advertisement

Mahasiswa UKI St. Paulus Ruteng Ramaikan Upacara Congko Longkap Gendang Werak

Friday, August 9, 2019

Welak, INFONEWSIA.COM - Masyarakat adat kampung Werak, Desa Pong Welak, Kecamatan Welak Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) melaksanakan ritual adat Songko Lokap pada Sabtu, (3/8/2019). Songko Lokap adalah adat khas orang Manggarai yang terdiri dari beberapa rangkaian upacara adat.
Masyarakat adat kampung Werak, Desa Pong Welak, Kecamatan Welak Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) melaksanakan ritual adat Songko Lokap. (Foto: Ist)

Hal paling menonjol dari Songko Lokap adalah penyampaian rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepada leluhur atas segala kesuksesan dan hal baik dalam hidup manusia. 

Dalam adat-istiadat orang Manggarai, Songko Lokap ditautkan dengan  keberhasilan pembagunan Mbaru Gendang (Rumah Adat) dalam suatu komunitas masyarakat adat. Demikian halnya dengan upacara Songko Lokap yang dilakukan oleh masyarakat adat kampung Werak.

Mereka percaya betul bahwa, segala kesuksesan dan hal baik yang dinikmati manusia di muka bumi ini tidak terlepas dari campur tangan Tuhan dan doa-doa nenek moyang mereka. 

Diketahui, selama beberapa tahun belakangan, masyarakat Werak telah bekerja sama secara bahu-membahu; dalam segala keterbatasan, mereka menyumbang banyak tenaga dan pikiran untuk kesuksesan pembangunan rumah adat tersebut.

Namun meski begitu,  Songko Lokap tidak saja dimaknai sebagai upacara syukur semata. Dalam Songko Lokap, ada komitmen dan harapan. Komitmen untuk memulai suatu corak hidup yang baru dalam masyarakat; meninggalkan pola hidup yang buruk dan negatif, sembari berharap penuh pada Penyelenggaraan Tuhan Yang Maha Esa dan doa-doa para leluhur di masa-masa yang akan datang.

Kegiatan Songko Lokap ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Mabar, Maria Geong dan beberapa pimpinan SKPD setempat. Selain itu, ikut dan hadir sekelompok Mahasiswa FKIP UKI St. Paulus Ruteng yang sedang melaksanakan Kerja Kulia Nyata (KKN) di Desa Pong Welak. Kehadiran sekelompok Mahasiswa ini turut memberi warna tersendiri dalam seluruh rangkaian kegiatan.

Mereka hadir dan terlibat aktif dari saat persiapan hingga hari puncak perayaan. Bentuk partisipasi mereka antara lain: terlibat dalam kepanitian kegiatan, menyiap dan membawakan ronda penjemputan rombongan Wabub Mabar, hingga memeriahkan hari H dengan mementaskan berapa paket acara yang khas budaya Manggarai. Totalitas keterlibatan mereka mendapat apresiasi yang tinggi dari Kepala Desa Pong Welak Konstantinus Palit. 

Kades yang biasa disapa Konstan ini mengatakan, keterlibatan sekelompok Mahasiswa dalam acara Songko Lokap ini membuktikan bahwa KKN mahasiswa dijalankan dengan sepenuh hati. Mahasiswa benar-benar hadir di tengah-tengah masyarakat, hidup bersama masyarakat dan ingin merasakan apa yang dirasakan masyarakat.

Masyarakat yang hidup dengan fakta sosial-budaya yang mengitarinya, kata Konstan, memang harus terus didampingi dan Mahasiswa adalah salah satu elemen penting yang mempunyai tugas untuk itu.

Ia menambahkan, keterlibatan Mahasiswa dengan seluruh tugas dan tanggung jawab yang telah mereka lakukan telah memberikan banyak hal positif bagi masyarakat.

"Penampilan para mahasiswa ini membuat budaya Manggarai semakin sakral dan membuat masyarakat sangat tertarik. Ada nilai pendidikan di dalamnya," Aku Konstan. 

"Ini adalah penampilan terbaik dari segi dedikasi dan kedisiplinan. Lalu suaranya juga sangat rapi sekali dan terarah, membuat arah perhatian rombongan pemerintah terutama Ibu Wabub terarah pada rombongan ronda. Ibu Wabub sangat memuji penampilan kalian dari kabupaten tadi saat ronda tadi," lanjutnya.

Mewakili masyarakat Desa Pong Welak, secara khusus masyarakat  kampung Werak, Konstan pun mengucapkan terima kasih untuk keterlibatan Mahasiswa dan berharap penuh apa yang diperoleh dari kampung Werak bisa menjadi bekal berharga di tempat lain.

"Mewakili masyarakat adat kampung Werak seluruhnya, saya  mengucapkan profisiat dan terima kasih banyak atas keterlibatannya, atas partisipasi di tengah-tengah masyarakat. Semoga pembelajaran ini semakin bertambah di kemudian hari dan boleh dilaksanakan di manapun kalian  berada," tutupnya.

Rangkaian Upacara Songko Lokap

Songko Lokap terdiri dari beberapa rangkain upacara adat. Tua Gendang Werak, Bernabas menjelaskan beberapa rangkaian upacara adat tersebut.

Pertama 'oke saki'. Secara harfiah 'oke saki' berarti buang yang kotor. Yang dimaksudkan dengan yang kotor itu adalah segala hal negatif, termasuk kejahatan yang pernah dilakukan baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam konteks kehidupan bermasyarakat.

Kedua 'barong wae teku'. Secara harfiah, barong berarti mengabarkan, sementara wae adalah air sementara 'teku' artinya timba. 'Barong wae teku bermakna mengabarkan kepada roh yang mendiami air yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat setempat bahwa dalam suatu kampung sedang diadakan suatu acara penting yakni songko lokap.

Roh air dianggap sebagai sumber kehidupan, tanpa air manusia tak bisa hidup. Selain itu, awal mulan dibentuknya suatu kampung sangat ditentukan keberadaan mata air. Goet (Kata-kata mantra) yang sering diucapkan oleh tetua adat saat Barong Wae teku adalah "tombo one ise ata ngara wae kudut kembus wae teku woas wae woang,".

Ketiga acara 'libur kilo'. 'Libur kilo' merupakan perkumpulan keluarga dari setiap suku untuk melaksanakan ritus adat tei hang kolang (pemberian seseajian) kepada  nenek moyang mereka masing-masing yang telah meninggal.

Lalu, dilanjutkan dengan upacara adat yang keempat yaitu 'penti'. Penti Merupakan acara yang diikuti oleh semua Masyarakat di rumah adat untuk meminta agar mendapatkan berkat dan rejeki.
Para mahasiswa FKIP UKI St. Paulus Ruteng berpose usai acara
Bernabas mengatakan, seluruh rangkain adat di atas harus dilakukan secara sungguh-sungguh dan menuntut partisipasi aktif seluruh masyarakat adat kampung Werak. 

"Ini merupakan momen langka dan penting. Semua masyarakat harus terlibat aktif di dalamnya," ujar Bernabas.

Sementara itu, perwakilan dari Mahasiswa FKIP UKI St.Paulus Ruteng, Stefanus Habur mengaku bangga dengan keterlibatannya dalam seluruh rangkaian Songko Lokap yang dilaksanakan oleh masyarakat adat kampung werak.

Stefanus mengatakan, ada banyak hal positif yang ia dapat selama mengikuti kegiatan tersebut terutama hal-hal positif yang berkaitan dengan kebudayaan. 

"Kesan saya, sonko lokap ini sangat penting. Ini merupakan pengalaman pertama kali saya mengikuti kegiatan ini. Kegiatan ini begitu penting karena sebagai kaum mudah kami bisa mengenal secara mendalam seperti apa itu ritus Songko lokap. Kami tentu sangat senang karena telah terlibat langsung secara aktif dalamnya." ujar Stefanus. 

Stefanus berpesan agar generasi muda tidak apatis dengan setiap acara adat dan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.

"Pesan saya lebih khusus untuk kami sebagai kaum muda yang notabene sebagai kaum intelektual, suka atau tidak kami harus mampu melihat, merawat, mempertahankan budaya manggarai ini, sehingga kami bisa membagikan ke generasi yang berikutnya.Semoga dengan mengikuti ritual adat manggarai ini bisa menjadi bekal bagi kami untuk meneruskan budaya itu ke generasi berikutnya nanti," harap Mahasiswa semester tujuh FKIP UKI St. Paulus ini.

Stefanus menghaturkan terima kasih kepada seluruh masyarakat adat kampung werak, kepada tetua adat dan juga kepada pemerintah Desa setempat. Stefanus menyadari betul, hanya karena keterbukan hati merekalah ia bersama teman-temanya bisa mengaktualisasikan diri dengan terlibat secara aktif dalam setiap kegiatan penting dalam masyarakat.

"Terima kasih kepada masyarakat adat Werak, kepada tetua adat, kepada pemerintah desa dan masyarakat seluruhnya yang telah memberi kepercayaan dan menerima kami dengan tangan terbuka di tempat ini. Kami akan terus meminta dukungan dari bapak/i sekalian dalam seluruh perjuangan dan cita-cita kami," tambah kader GMNI cabang Ruteng ini. 

Mahasiswa lain, Asilia Marsela H. Jahu mengatakan, tujuan kehadiran mereka adalah sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya di kampung Werak. Selain itu, ia mengatakan, ini merupakan ajang bagi bagi dia bersama teman-temanya untuk mempelajari seluk beluk ritual Songko Lokap.

"Terima kasih juga kepada kades dan masyarakat desa Pong Welak yang telah memberi kepercayaan kepada kami dalam acara Songko Lokap ini," ujar Mahasiswi yang biasa disapa Acek ini.

Penulis: Stefanus Habur
Editor : Rikard Djegadut